Selasa, Desember 23, 2008

I B U ...............

Spesial untuk Mama yang ada di Malang...juga untuk istri-ku (ibu dari anak-anakku)

Di 22 Desember, dimana hari ini adalah hari kebangkitan perempuan Indonesia, (lebih populer diperingati sebagai Hari Ibu), hanya sebuah kalimat yang pantas diucapkan :

"I love you Mom"
Mama, hanya untaian doa yang kupanjatkan kehadirat allah SWT, agar engkau selalu berada dalam lindungan-Nya dan selalu mendapat limpahan rahmat serta hidayah-Nya.
Mama, pengorbananmu sungguh luar biasa, 9 bulan aku berada dalam kandunganmu, engkau pertaruhkan nyawamu demi melahirkan aku, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, engkau tidak pernah mengeluh kelelahan dalam merawatku...........hingga akhirnya aku menjadi yang sekarang ini.
Mama, sungguh tidak cukup hanya ucapan terimakasihku untuk menebus semua itu, tapi kupersembahkan bakti-ku untukmu seumur hidupku.
Mama, ku-bersujud di kaki-mu, hanya untuk memohon restu agar aku bisa menjalani pahit manisnya hidup ini.
Istriku, terima kasih ku-ucapkan, selama 4 tahun ini engkau selalu mendampingiku di kala senang maupun susah, sesuatu yang merupakan bagian dari pengorbananmu.......
Istriku, engkau telah mengandung anak-anakku, juga mempertaruhkan nyawamu disaat kau lahirkan mereka, hingga saat ini engkau tiada lelah merawat mereka....
Istriku, engkau adalah wanita hebat, wanita yang mandiri, wanita yang bisa memberikan kegembiraan di kala kesusahan, memberikan penerangan di kegelapan, memberikan solusi di kala menemui jalan buntu.
Istriku, aku bersyukur, engkau menjadi suatu bagian yang paling berarti dalam hidupku juga dalam hidup anak-anakku.
Sebuah puisi dariku untuk mama :
Mama, engkaulah rumah pertama bagiku
Nyawa engkau pertaruhkan demi kehadiranku di dunia ini
Kau curahkan semua kasih sayang- mu kepadaku
Tiada kata lelah dalam benakmu, semua demi aku anakmu

Mama, engkaulah wanita yang paling mulia
Mulia dalam merawatku,
Mulia dalam mendidikku,
Mulia dalam mendoakanku….

Mama, beribu-ribu kata tidak cukup untuk membalas pengorabananmu
Pengorbanan tanpa henti, sampai kini
Mama, sebuah cinta tulus kupersembahkan
Cinta sebagai lambang pengabdian seumur hidupku padamu

Mama, kupanjatkan sebuah doa untukmu
Ya Allah, muliakanlah kedudukannya
Ya Rahman, limpahkanlah rahmat dan hidayah-Mu kepadanya
Ya Rab, lindungilah dia, wanita dimana surgaku ada di bawah telapak kakinya

Mama, terima kasih kuucapkan atas perjuanganmu,
sehingga aku bisa meniti kehidupan seperti sekarang……..
Sembah sungkem untuk Mama
Salam sayang untuk istri-ku (ibu dari anak-anakku)
Terima kasih juga untuk almarhumah Ibu dan Tante Yayuk atas kasih sayang, support dan doanya selama ini.
" I Love U all "
Baca Selengkapnya......

Minggu, Desember 14, 2008

Cerita seekor siput yang "Meng-60n660n6......"

Cerita dari sebuah kebiasaan.......

Hari ini adalah hari dimana genap dua minggu sudah saya bertugas di sini, Senin besok adalah hari yang paling saya tunggu-tunggu, tidak lain dan tidak bukan karena mulai besok sampai satu minggu ke-depan memasuki masa libur sehingga saya bisa berkumpul dengan orang-orang yang saya cintai dan sayangi (istri dan kedua bocah kecil-ku).

Seperti sebelum-sebelumnya, baik saya maupun teman sekerja, sehari sebelum meninggalkan lokasi, kami mempunyai satu agenda yang tidak bisa dilewatkan, itupun dilakukan kalau cuaca mendukung. Ya, kami "berburu" gonggong, meskipun namanya identik dengan suara anjing tapi yang satu ini adalah sebuah siput, siput gonggong.
Gonggong hidup di lokasi pasir berlumpur dengan kondisi air yang tenang, juga disekitarnya ditumbuhi oleh tumbuhan laut seperti bangsa rumput-rumputan. Gonggong inilah yang akan kami bawa pulang sebagai oleh-oleh untuk orang-orang yang kami sayangi di rumah. Pada saat laut mulai terlihat surut, mulailah kami bersiap menggunakan sepatu boot anti air untuk "bergerilya" di tengah-tengah hamparan rumput-rumputan yang tumbuh di lokasi yang berlumpur. Biasanya pada saat air laut surut, gonggong berada di sekitar gunungan pasir kecil-kecil, dan tentunya butuh ketajaman mata untuk melihat si siput yang satu ini, karena warna cangkangnya tidak terlihat alias tertutup oleh lumpur atau lumut. Dengan sedikit membungkuk-kan badan dan berusaha menajamkan penglihatan mulailah ketemu yang kami cari, satu per satu diambil dan diletakkan pada sebuah ember plastik. Setelah satu jam, kami akhiri perburuan kali ini, cukup lumayan hasilnya.....sekitar 1/2 ember besar. Bergegas kami membersihkan si gonggong ini di lokasi yang terdapat aliran air (ini masih di laut lho.....) yaitu dengan memutar-mutar ember dan sedikit diberi hentakan, selanjutnya dibilas dengan air yang baru, proses ini dilakukan beberapa kali. Pencucian ini dilakukan untuk menghilangkan lendir si siput dan membersihkan kotoran yang menempel pada cangkang. Setelah dirasa "bersih", ember yang berisi gonggong tadi diberi air laut dan diinapkan dulu satu malam, supaya pasir/lumpur yang ada di dalam cangkang atau yang menempel pada tubuh gonggong bisa terlepas.


Nah, besok pagi adalah hari H "peng-eksekusi-an" si gonggong untuk diolah/dimasak, untuk agenda yang satu ini kami serahkan pada ahlinya, yaitu kepada "chef" andalan kami. Chef yang sehari-hari menyediakan menu-menu bergizi bagi kami disini, yang kebetulan juga punya resep khusus warisan nenek moyang dalam mengolah gonggong.


Menurut orang-orang, juga menurut teman-teman sekerja (maklum, saya sendiri seorang vegetarian), daging gonggong sangat enak, dan tentunya sebagai makanan laut gonggong adalah sumber gizi yang baik. Pantas saja, gonggong menjadi makanan laut khas Kep. Riau dan menjadi daya tarik tersendiri bagi orang-orang yang sedang berkunjung ke Kep. Riau untuk mencicipinya. Yang lebih unik lagi adalah cara memakannya, butuh bantuan sebuah tusuk gigi untuk menarik daging dari cangkangnya. Proses penarikan daging dari cangkangnya juga tidak boleh sembarangan, daging ditarik menggunakan tusuk gigi harus mengikuti bentuk cangkangnya, karena dagingnya bisa putus, kalau putus tentu akan membuat si penikmat kerepotan untuk mengkorek-korek daging yang berada pada cangkang. Kalau ada yang penasaran, silahkan berkunjung ke Kep. Riau.


I love Monday.....


Thanks untuk Bu Sri (chef) yang nggak bosan-bosan untuk mengolah si siput.
Baca Selengkapnya......

Sabtu, Desember 13, 2008

J 06 ED .........sebuah tradisi......

Sekedar sharing seputar masalah sosial..........
Beberapa hari yang lalu kami (saya + teman-teman sekerja) mendapat sebuah undangan acara pernikahan salah seorang warga di pulau tempat lokasi kami bekerja. Seperti sebelum-sebelumnya, setiap ada acara pernikahan atau khitan, kami selalu mendapat undangan, merupakan sebuah kehormatan untuk kami menghadirinya sebagai bukti bahwa kami adalah bagian dari pulau ini, sebuah pulau yang terletak di dekat perbatasan Indonesia - Singapura. Dan seperti biasa pula, hiburan yang tertulis adalah "joged". Inilah yang mengusik saya untuk menuangkan dalam blog ini.
"joged" bisa dikatakan sebagai sebuah "tradisi" di pulau ini dan pulau-pulau lain di sekitarnya. Acara ini umumnya ditampilkan/dilaksanakan pada saat salah satu keluarga "berada" mempunyai acara "besar", yang paling banyak pada acara pernikahan. Biasanya si empunya acara akan mengontrak grup joged tersebut untuk tampil pada acaranya. Dilaksanakan umumnya 2-3 malam, dimulai pada H-1 malam sampai pada hari H atau H+1, dari sore hari sampai dini hari.
Malam itu, sekedar refreshing mencoba untuk merelaksasi diri, kami berboncengan menuju lokasi, kebetulan kami sedikit ingin melihat keramaian (cermin sebagai makhluk sosial), maklum hari berganti hari kehidupan kami selama 2 minggu bekerja hanya bertemu orang yang sama saja....
Saya sendiri baru kali pertama melihat acara ini, cukup ramai saat itu meskipun malam itu bukan malam minggu, terlihat kelompok-kelompok pemuda, ada juga yang berpasang-pasangan. Kebetulan saat itu kami ketemu dengan pegawai supporting kami, yang merupakan warga pulau setempat, perbincangan hangat-pun tidak terelakkan, sampai akhirnya saya baru tahu bahwa kebanyakan para pemuda yang berkelompok itu sedang "menghangatkan" badan, "....sudah biasa pak, sebelum joged, menghangatkan badan dulu....", "menghangatkan" badan dengan minum - minuman "sedikit" beralkohol, ini menjadi hal yang di-"legal"-kan oleh masyarakat sekitar ("legal" hanya pada saat ada acara "joged" ini saja). Dan yang membuat saya terheran-heran, acara keramaian seperti ini, hanya dijaga oleh beberapa orang anggota keamanan saja, ternyata selidik punya selidik mereka mempunyai aturan tidak tertulis, "kalau mabuk dan membuat rusuh ya mau nggak mau disuruh pulang atau bahkan dipulangkan". Menurut teman sekerja saya, selama dia beberapa kali menonton acara yang sama, belum pernah terjadi keributan.
Sebenarnya apakah "joged" itu ? terkesan mirip dengan diskotik, cuman yang membuat beda adalah disini tempatnya terbuka, lagu yang mengiringi biasanya tidak full version, artinya lagu-nya hanya setengah saja, lalu disambung dengan lagu berikutnya sampai lagu ke-10. Ada seorang operator merangkap sebagai "dj" yang mengoperasikan seperangkat audio player, mixer dan sebuah keyboard (mungkin kalo di daerah lain bisa juga disebut "electone"), ditemani juga seorang atau lebih penyanyi, umumnya penyanyi wanita. Lagu pengiring beraliran dangdut atau house music, kebanyakan musik ditampilkan dengan vokal penyanyi "asli-nya" dibandingkan dengan penampilan si penyanyi. Sebagai maskot dari acara ini adalah para penari-nya, biasanya 5-10 orang gadis-gadis muda. Ternyata yang namanya joged tidak lain adalah berjoged dengan alunan musik ditemani oleh para gadis penari ini. Jangan salah, meskipun para penarinya gadis-gadis muda, banyak juga dari kaum hawa yang kebanyakan berusia ABG juga ikut bergabung.
Tidak gratis untuk ber-joged dengan para penari ini, ditambah juga harus mengumpulkan beberapa teman untuk menjadi satu grup sesuai dengan jumlah penarinya. Informasi dari teman sekerja, biasanya tiap orang diwajibkan untuk membayar kurang lebih Rp. 3000,- untuk sebuah lagu, dan setiap putaran umumnya 10 lagu, jadi total tiap orang harus membayar Rp. 30.000,-. Bisa dibayangkan omzet dari grup ini satu malam, seandanyainya paling sedikit 10 grup yang ber-joged, minimal Rp. 3 juta bisa dikantongi.....Pembayaran dilakukan pada sang operator yang merangkap "dj" tadi, selanjutnya si operator akan memberikan nomor antrian, jadi si pemuda atau si gadis harus menunggu giliran dipanggil. Pada saat gilirannya dipanggil, maka mereka langsung menghampiri para gadis penarinya, ya mungkin bisa saja terjadi perebutan antar teman terutama para pemuda yang tentunya memilih gadis yang paling "cling". Kalau anggota grup yang dipanggil itu sudah lengkap, langsung dimulai dengan lagu pertama, joged-pun dimulai sampai dengan lagu yang terakhir.
Mungkin ini hanya sebagai gambaran, betapa besarnya gempuran budaya asing terhadap budaya lokal. Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, mari kita selamatkan budaya daerah/budaya nasional yang merupakan warisan budaya nenek moyang kita.
Baca Selengkapnya......

Jumat, Desember 12, 2008

Cermat + Cepat + Tepat = Keputusan Bijaksana

Berusaha lagi untuk memotivasi diri.......

Suatu kali kita dihadapkan pada situasi yang mendesak dan membutuhkan adanya suatu keputusan. Bisa-kah kita untuk berpikir secara cermat, bergerak cepat dan bertindak yang tepat, agar setidaknya situasi itu bisa terkendali atau bahkan situasi itu bisa dilalui.
Ada sesuatu yang mengingatkan saya, kejadiannya di bulan Agustus, saat itu saya mendapat kesempatan dari perusahaan untuk mengikuti sebuah pelatihan/training, mengenai "bussiness ethics dan code of conduct", sang trainer saat itu meberikan sebuah contoh :
Ada sebuah situasi yang sangat mencekam, dan anda berada di daerah pinggiran kota, saat itu anda hanya bersama tiga orang lainnya, seorang dokter yang pernah menolong anda, seorang nenek tua yang butuh segera pertolongan lebih lanjut di rumah sakit dan yang terakhir adalah kekasih hati anda. Saat itu tidak ada alat transportasi, kecuali sepeda motor yang anda miliki. Apa yang akan anda lakukan ? tanya sang trainer.
Semua peserta yang hadir terdiam, mencoba untuk berpikir untuk menemukan jawaban dari pertanyaan sang trainer, ada beberapa jawaban dari peserta yang saat itu hanya ditampung saja oleh sang trainer, menandakan jawaban itu kurang tepat. Namun tidak berapa lama muncul jawaban dari peserta lain dan sang trainer-pun terlihat puas dengan jawaban itu dan mengisyaratkan bahwa jawaban itu tepat. Apa yang harus dilakukan jika anda berada pada situasi di atas, sesuatu yang mencerminkan seseorang itu mampu untuk berpikir cermat, bergerak cepat dan bertindak tepat, jawabannya adalah : " saya akan memberikan kunci motor saya kepada dokter tersebut untuk membonceng nenek tua menuju rumah sakit terdekat agar segera mendapat pertolongan lebih lanjut. Saya sendiri akan bersama dengan kekasih hati saya berjalan menuju kota terdekat".
Memang sungguh sulit, untuk berpikir secara cermat, bergerak cepat dan bertindak tepat, sehingga menghasilkan suatu keputusan yang bijaksana, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Karena sebagai manusia biasa kita pasti dihadapkan pada pertimbangan-pertimbangan tertentu, meski kita harus tetap peka terhadap individu atau lingkungan sekitar kita.
Bagaimanapun sulitnya, kita harus tetap mengusahakan diri kita untuk bisa mengambil suatu keputusan yang bijaksana dengan berlandaskan pikiran yang cermat, mampu bergerak cepat dan bisa bertindak tepat. Mencoba melatih diri untuk rela/ikhlas melepaskan sesuatu yang kita miliki, mengakui segala keterbatasan yang kita miliki dan memendam keinginan untuk mendapat sesuatu yang "lebih" baik, baik bagi kita sendiri ataupun orang lain.
Semuanya akan kembali ke diri kita masing-masing, apapun yang menghampiri kita senantiasa kita tetap berpikir secara positif, tetap pasrah kepada Allah SWT, tetap ikhlas menerima segala sesuatu yang ada pada kita, tetap tawakal berusaha untuk mendapatkan hasil yang lebih "mulia'....amien.
Mudah-mudahan, saya berharap khususnya diri saya sendiri juga orang-orang di sekitar saya termasuk orang-orang yang bisa membuat suatu keputusan dengan berlandaskan berpikir cermat, bergerak cepat dan bertindak tepat......Amien
Baca Selengkapnya......

Kamis, Desember 11, 2008

Silahkan pilih ? SUKSES atau GAGAL

Sedikit curhat, antara sukses dan gagal.....usaha untuk memotivasi diri
Kita sering mendengan kalimat "Kegagalan adalah sukses yang tertunda", namun tidak banyak orang yang memaknai kegagalan-nya, banyak orang yang sekedar "menyerah" hanya dengan keputusasaan. Atau hanya berdasarkan makna yang di dengan sengaja direkatkan dengan kegagalan yang terjadi, misalnya : "itu sudah takdir", "mungkin itu semua cobaan", atau "ya namanya juga nasib". Padahal kita bisa juga memaknai kegagalan dengan sesuatu yang bisa membangkitkan semangat untuk tidak mengulangi kegagalan tersebut, misal : "kegagalan ini adalah tantangan bagiku".
Hidup ini adalah pilihan, apapun yang kita pilih semuanya akan membawa kita untuk menerima segala konsekuensi dari pilihan kita. Begitu juga dengan kesuksesan maupun kegagalan, semua orang akan merasakan enaknya suatu kesuksesan atau bahkan sebaliknya, tidak enaknya kegagalan. Namanya sebuah kesuksesan, tentu akan membawa sesuatu yang positif dalam hidup seseorang, sepanjang orang tersebut mampu untuk memaknai dan memanfaatkannya, tidak terlena dengan kesuksesan yang telah diraih. Karena kesuksesan seseorang tidak sepenuhnya hasil dari perjuangan diri, tapi juga didukung oleh lingkungan sekitarnya, baik itu teman, keluarga, atau yang lainnya.
Tapi, bagaimana kalau kita menuai suatu kegagalan ? Apakah kita harus "cuek" dengan membiarkan kegagalan yang sudah terjadi, kita "menolak" atau bahkan kita "menerima" kegagalan itu ?
Membiarkan kegagalan, pada intinya kegagalan tersebut diterima saja dan dibiarkan sebagai bagian dari sejarah hidup. Kegagalan hanya dimaknai sebagai suatu takdir, yang digariskan oleh Allah SWT. Tidak ada cara berpikir yang lebih dalam untuk mensikapi kegagalan yang ada.
Bagaimana dengan "menolak" kegagalan? biasanya cenderung untuk membenarkan diri sendiri dan menyalahkan orang lain, keadaan atau lingkungan sebagai penyebab terjadinya kegagalan. Sikap seperti ini, biasanya pada orang yang cenderung bermasalah dalam hal spiritual dan pengendalian diri.
Yang paling baik dalam mensikapi suatu kegagalan adalah dengan "menerima", menerima kegagalan yang terjadi sebagai suatu pelajaran, menganggap kegagalan itu sebagai "guru" untuk mencapai suatu tujuan yang telah direncanakan sebelumnya. Menanamkan sesuatu yang positif dalam diri sendiri dalam mensikapi kegagalan.
Lingkungan mempunyai peran penting untuk memaknai sebuah kegagalan. Lingkungan paling kecil adalah keluarga, atau bahkan yang lebih besar adalah masyarakat, dimana kita adalah bagian darinya. Orang yang dibesarkan oleh lingkungan yang beebeda akan mempunyai sudut pandang yang berbeda pula dalam mensikapi suatu persoalan hidup. Sebagai penentu keputusan adalah diri sendiri, paling tidak kita harus bisa menentukan apa yang mempengaruhi kita, entah itu positif ataupun negatif, sebagai landasan untuk mensikapi dan memaknai suatu kegagalan.
Bagaimana kita seharusnya memaknai sebuah kegagalan ?
Makna merupakan hasil penciptaan suatu usaha untuk menemukannya, dalam arti mencipatakan kondisi bahwa kita sedang menjalani suatu proses hidup dengan melewati suatu situasi menuju tingkat hidup yang lebih tinggi, yaitu kematangan diri. Perlu ditanamkan dalam diri kita bahwa kesuksesan itu tidak serta merta datang kepada kita, tapi butuh sutu perjuangan "hidup" untuk meraihnya.
Terkadang kita menginginkan suatu hasil yang lebih, hasil yang besar, target maksimal, tetapi kita lupa akan hal-hal kecil yang terkadang terlewati oleh kita, hal-hal positif yang seakan tidak cukup bernilai, misalkan : ikut bergembira dengan kesuksesan orang lain, bukan sebaliknya atau sedikit relaksasi, semua itu akan mempengaruhi kita dalam memaknai sebuah kegagalan.
Setelah kita melewati suatu situasi sebagai pembelajaran diri, kita akan menemukan kekuatan baru berupa kemampuan. Situasi yang tidak mengenakkan atau situasi yang tidak menguntungkan atau bahkan situasi yang menyakitkan, semuanya akan memunculkan suatu kemampuan dan menggunakannya untuk menambah nilai positif bagi diri sendiri maupun orang lain. Pembelajaran diri dalam memaknai peristiwa hidup pada situasi tersebut diataslah yang menjadi kunci dalam menggali kemampuan diri dan hasilnya digunakan untuk diri sendiri dan orang lain.
Akan sangat baik jika kita dapat belajar dan mengambil hikmah dari setiap peristiwa hidup yang kita jalani. Sebagai mahluk ciptaan Allah SWT yang paling sempurna, bagaimanapun peristiwa hidup yang kita alami, kesuksesan atau kegagalan, tetap berserah diri pada Allah SWT, bersyukur atas segala nikmat, tawakkal untuk tetap berusaha.
Baca Selengkapnya......

Rabu, Desember 10, 2008

Hindari yang satu ini..............

Ada yang mengusik perhatianku hari ini, sesuatu yang memacuku untuk segera berada di hadapan se-unit PC untuk segera nge-BLOG, kebetulan hari ini ada agenda bulanan perusahaan yang wajib dilakukan dan kebetulan juga ini dilaksanakan di lokasi tempat-ku bekerja yang berada di suatu remote area.Salah satu sesi dalam agenda itu adalah "penyuluhan" atau mungkin bisa disebut "sharing" dari staff sebuah rumah sakit bonafide dengan topik yang sangat relevan dengan kondisi dan keadaan lingkungan kerja kami.
Sesuatu ini mungkin tanpa saya sadari, saya pernah bahkan mungkin saat ini saya mengalaminya begitu juga teman sekerja yang lain mungkin pernah mengalami juga.

Apakah sesuatu itu ? sesuatu itu adalah STRES.
Secara definisi, stres adalah reaksi pribadi akibat pengaruh dari luar dan "diri" belum dapat mengendalikannya.

Gejala stres bisa mencakup beberapa hal, baik itu mental, sosial maupun fisik, misalkan: kelelahan, hilangnya atau bertambahnya nafsu makan, sakit kepala, sedih berkelanjutan sampai sering menangis, sulit tidur atau sebaliknya tidur yang berlebihan. Perasaan was-was, frustasi atau kelesuan juga bisa muncul bersamaan dengan stress.
Gejala-gejala diatas juga pernah saya alami, diantaranya nafsu makan hilang, sakit kepala dan sulit tidur. Saya perhatikan teman sekerja juga mengalami beberapa gejala timbulnya stress seperti yang dikemukakan di atas. Gejala stres pasti kita rasakan, namun terkadang membawa dampak positif secara fisik meskipun secara mental tidak, misalkan seperti teman saya, ini benar-benar terjadi, kalau dia lagi mengalami stres justru berat badannya akan semakin naik, karena kalau dia stres nafsu makannya justru bertambah.
Stres juga dapat berhubungan dengan pengalaman-pengalaman hidup yang pernah dialami, sehingga bisa dikatakan stres itu "unik", karena tiap orang berbeda, tingkatannya, penyebab-penyebabnya, gejalanya,dsb.
Tidak beda dengan diriku, saat ini aku jauh dari keluargaku, isteri dan kedua bocah kecilku, terkadang muncul perasaan was-was dengan kondisi mereka, bagaimana tidak isteri-ku harus menjalankan perannya sebagai orang tua seorang diri disaat aku sedang bekerja. Perasaan was-was juga muncul tatkala aku memikirkan Ibu-ku yang jauh dari keberadaan-ku saat ini, dimana beliau hanya seorang diri meskipun terkadang ada saudara yang menemani. Belum lagi,masalah-masalah yang muncul dalam pekerjaan, hubungan kerja yang kurang baik dengan atasan, adanya ketidakpuasan atau kecewa dengan situasi kerja atau ada suatu kejenuhan. Mungkin itu yang secara perlahan membunuh mentalku. Tapi aku sadar....semua hal-hal negatif itu perlu disikapi dengan sesuatu yang positif yang nantinya akan membawa kita menuju hal-hal yang positif. Meskipun terlintas sebuah pertanyaan "kalau kita sudah berpikir positif, hati kita juga positif, tindakan positif, tapi apa jadinya kalau lingkungan tidak mendukung", apa kita harus menggali lebih dalam diri kita untuk senantiasa mengefektifkan energi positif?" Selalu menggali energi postif dalam diri kita adalah hal yang sungguh baik, namun tetap kita memerlukan adanya dukungan dari lingkungan kita, paling tidak ada keluarga dan teman, yang nantinya akan berujung pada solusi. Katakan "tidak" pada obat-obatan yang saat ini banyak beredar di pasaran, obat-obat penenang, yang berfungsi untuk mengurangi intensitas detak jantung dan mengurangi ketegangan saraf, itu hanya bersifat sementara saja.


Tentu dalam kondisi seperti ini, aku yang seorang moslem harus selalu mengingat dan lebih mendekatkan diri pada Allah SWT, senantiasa berserah diri kepada Allah SWT, membangun kesabaran diri, dan rasa syukur serta rasa ikhlas sebagai upaya untuk menenangkan hati dan menghindari munculnya rasa kecewa. Juga harus tetap tawakal akan usaha yang sudah kulakukan.......

Kalau secara umum, kita harus membangun atau meningkatkan kemampuan untuk mengendalikan diri ketika situasi, orang-orang, dan kejadian-kejadian yang ada memeberi tuntutan yang berlebihan. Apa yang bisa dilakukan, misalkan :
- Memperhatikan lingkungan sekitar, mungkin ada sesuatu yang bisa diubah atau dikendalikan pada situasi itu.
- Menjauhkan diri dari situasi yang menekan.
- Tidak perlu kita mempermasalahkan yang sepele/remeh.
- Berusaha merubah reaksi kita terhadap suatu situasi.
- Mrnghindari reaksi yang berlebihan.
- Belajar merelaksasi diri sendiri
- Menentukan tujuan yang realistis dalam diri kita sendiri.
- Tidak membebani diri sendiri.
- Merubah cara pandang.
- Menghindari stress, dengan aktivitas fisik.
- Memanfaatkan stress.

Ini ada sebuah alinea yang "mungkin" bisa membantu kita untuk menghindari stres :

Tanamkan pada diri anda bahwa anda dapat mengatasi segala sesuatu dengan baik daripada hanya memikirkan betapa buruknya segala sesuatu yang terjadi. ?Stress sebenarnya dapat membantu ingatan, terutama pada ingatan jangka pendek dan tidak terlalu kompleks. Stress dapat menyebabkan peningkatan glukosa yang menuju otak, yang memberikan energi lebih pada neuron. Hal ini, sebaliknya, meningkatkan pembentukan dan pengembalian ingatan. Di sisi lain, jika stress terjadi secara terus-menerus, dapat menghambat pengiriman glukosa dan mengganggu ingatan.? All Stress Up, St. Paul Pioneer Press Dispatch, hal 8B, Senin, 30 November 1998.

" merasa "tertekan" tidak menjadikan kita "lemah" "
Baca Selengkapnya......

Selasa, Desember 09, 2008

Positif terus positif.....jangan berhenti

Positif yang dimaksud disini adalah segala sesuatu yang menyangkut pikiran, ucapan, tindakan yaitu postif dalan berpikir, positif dalam berucap dan positif dalam bertindak. Ketiga hal tersebut sungguh berkaitan, juga berhubungan dengan sugesti yang kita berikan pada diri sendiri. Syukur-syukur, sugesti positif itu juga bisa diberikan kepada orang lain.
Tidak mudah untuk membangun kepositifan (pikiran, ucapan dan tindakan) dalam kehidupan sehari-hari, butuh perjuangan dalam mengontrol diri juga landasan moral yang kuat.
Berikut contoh kecil saja, namun benar-benar terjadi, ini dialami teman saya yang seorang atasan, dalam kondisi ada beban kerja yang harus diselesaikan, beliau mencoba menghubungi anak buahnya via alat komunikasi pesawat radio amatir namun tidak ada respon. Beliau kembali mencoba dengan menghubungi anak buahnya via telephone genggamnya, tapi ternyata sama sekali tidak terdengar nada panggil alias telephone genggam si anak buah susah dihubungi. Yang bisa dilakukan hanya mengirim beberapa kata dalam pesan singkatnya.Tanpa disadari teman saya, saat itu wakt menunjukkan pukul 18.15 wib, yang merupakan waktu seorang moslem untuk beribadah sholat Maghrib. Akhirnya beliau berhasil menghubungi anak buahnya yang lain yang berada di satu lokasi dengan anak buah yang dihubungi pertama kali tersebut. Apa yang terjadi setelah si anak buah yang berhasil dihubungi si bos ini menginformasikan kepada anak buah yang pertama, si anak buah yang menjadi tujuan pertama si bos ini akhirnya menghubungi si bos, karena selain mendapat info tadi dia juga mendapat pesan singkat. Apa yang terjadi dalam perbincangan antara si bos dan si anak buah, yang muncul adalah pertanyaan yang terkesan menginterogasi dan menyudutkan si anak buah, belum lagi perbincangannya dilandasi dengan emosi, dimana emosi si bos memancing emosi si anak buah.
Sungguh sebenarnya hal itu tidak harus terjadi kalau kita memang bisa mengontrol diri, kita mencoba untuk berpikir positif ayng nantinya akan menuntun kita untuk bertindak dan berucap secara positif juga. Kembali lagi ke contoh cerita di atas, sesungguhnya apa yang terjadi dengan si anak buah yang pertama, kenapa dia tidak merespon jawaban si bos via radio amatir, atau membaca pesan singkat yang diterima? Yang pertama, waktu dimana si bos mencoba melakukan kontak tadi adalah waktu seorang moslem menjalankan ibadah sholat Maghrib dan si anak buah ini memang benar sedang menjalankan ibadah sholat. Yang kedua, ternyata repeater dari pesawat radio amatir yang mereka gunakan mengalami masalah sehingga kedua belah pihak tidak bisa saling memonitor. Yang ketiga, kemungkinan signal operator seluler yang digunakan pada telephone genggam si anak buah lagi tidak stabil/tidak baik. Pada akhirnya justru hubungan kerja yang tidak harmonis lagi yang timbul setelah kejadian diatas. Sungguh hal yang sia-sia.
Yang jelas, antara pikiran, tindakan dan ucapan juga harus berjalan bersama, jangan sampai kita sudah punya niat yang positif dalam pikiran kita, tindakan kita juga sudah positif , tapi kita dikalahkan oleh suatu ucapan yang negatif. Jangan sampai pikiran, tindakan maupun ucapan juga hati kita diracuni oleh hal-hal yang negatif....tetap kita harus bersikap positif (pikiran, tindakan dan ucapan = POSITIF) meskipun kita mendengar ucapan-ucapan negatif tentang diri kita, atau ada tindakan negatif yang kita terima atau-pun kita berada di dalam suasana yang negatif .
Sesungguhnya kita tidak rugi untuk selalu bersikap positif (pikiran, tindakan dan ucapan = POSITIF) dalam segala hal dan situasi, semuanya akan membuahkan sesuatu yang positif atau menyenangkan, menyenangkan diri sendiri juga menyenangkan orang di sekitar kita. Positif atau negatif sikap (pikiran, tindakan dan ucapan) kita bergantung kepada keyakinan atau sugesti yang anda berikan pada diri anda sendiri.
"KEEP POSITIVE"
Baca Selengkapnya......

Senin, Desember 08, 2008

Catatan kecil di 10 Dzulhijjah 1429 H

Alhamdulilah, itulah kata yang pantas kuucapkan sebagai rasa syukur , tahun ini masih diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk dipertemukan dengan Hari Raya Iedul Adha, yang jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah 1429 H atau penanggalan masehi pada tanggal 8 bulan Desember tahun 2008.

Gema takbir, tahmid dan tahlil berkumandang diiringi gerimis hujan yang tidak berhenti sejak dini hari, ku berharap hujan ini sebagai pertanda Engkau limpahkan rizki-Mu kepada kami umat muslim dan alam semesta.
Bapak-bapak, Ibu-ibu dan anak-anak berbondong-bondong di bawah siraman gerimis hujan menuju ke masjid yang ada di tengah-tengah perkampungan pinggir laut. Maklum saja, saat ini, di hari raya ini aku tidak bisa berkumpul dengan keluargaku, isteri dan kedua bocah kecilku. Di hari qurban ini, sebagai bagian dari kewajibanku, aku tetap menjalankan tugas sebagai seorang karyawan kelas bawah sebuah perusahaan yang mempunyai fasilitas berada di sebuah pulau di dekat perbatasan Indonesia – Singapura.

Betapa kecilnya diriku dihadapan-Mu Ya Allah, itulah yang kurasakan saat aku mengumandangkan kebesaran-Mu, Allahu Akbar, yang mencetuskan ungkapan rasa syukur dari jiwa yang paling dalam. Aku sadar, bahwa rasa syukur ini tidak ada batasnya, tidak hanya pada sikap diri, tapi harus diwujudkan dalam segala ruang lingkup kehidupan, sikap yang memberikan sesuatu hasil yang berguna bagi orang lain meskipun dalam keadaan yang tidak meng-ena-kan, dimana kita berada pada keadaan “tertekan” dan adanya “pemaksaan” dari orang-orang yang serakah dan tamak dengan kehidupan duniawi
Sungguh Ya Rabb, ku bersujud di hadapan-Mu sebagai muslim yang selalu mengingat-Mu, muslim yang senantiasa menjalankan seluruh perintah-Mu, Ya Azis, lindungilah aku dari siksa api neraka, lindungilah aku dari godaan syetan yang terkutuk, lindungilah aku dari azab-Mu.

Adapun khutbah yang disampaikan khotib pada sholat sunnah Iedul Adha hari ini secara garis besar menceritakan tentang pengorbanan yang dilakukan Nabi Ibrahim AS terhadap Nabi Ismail AS, yang tidak lain adalah putranya sendiri. Pengorbanan itu dilakukan semata-mata karena keimanan yang tinggi dan ketaatan diri akan perintah Allah SWT. Hari ini-pun para jamaah haji yang berada di Saudi Arabia sedang melaksanakan wukuf di Arafah, sungguh mereka akan melihat hal-hal yang akan meningkatkan keimanan mereka kepada Allah SWT. Mereka bisa melihat diantaranya dimana Al-Qur’an pertama kali diturunkan, sungguh pengalaman yang luar biasa.
Ada satu hal lagi, yang khatib ingatkan di dalam khutbahnya, hendaknya kita kembali kepada peran kita masing-masing, diibaratkan kita ini sedang berada di dalam panggung sandiwara dunia, Allah SWT sebagai Sang sutradara, Al-Quran sebagai skenario atau naskah sedangkan manusia berperan sebagai aktor dan aktris.
Memang kalau kita sadari, peran-peran tersebut seringkali menjadikan kita tidak dalam posisi yang tidak sederajat, ada yang tua, ada yang muda, dsb.
Jadi, apapun peran yang sedang kita mainkan, jalani dengan serius dan sepenuh hati. Tanpa keseriusan dan keikhlasan, peran yang kita mainkan akan hampa karena hanya akan sekedar menghabiskan ruang dan waktu yang diberikan Allah SWT kepada kita.

Ya Allah, ku berharap aku termasuk dalam umat yang selalu Engkau lindungi….amien

“SELAMAT IEDUL ADHA 1429H, Mohon Maaf Lahir dan Bathin”
Baca Selengkapnya......

Minggu, Desember 07, 2008

Atasan saya baik apa buruk ya ?

Cerminan seorang bawahan yang peduli dengan lingkungan kerja dan kerjasama team, sebenarnya apa yang menjadi tujuan saya bekerja? yang ada di pikiran-saya dalam bekerja adalah hanya masalah “urusan perut” saja , tapi jangan salah, kalau dikembangkan “urusan perut” itu bisa mencakup yang pertama adalah “keadilan” alias diakuinya keberadaan diri saya dan adanya penghargaan terhadap apa yang telah saya kerjakan. Yang kedua adalah hubungan kerja yang baik dan kerjasama dalam team yang nantinya berujung pada lingkungan kerja yang nyaman dan aman. Selanjutnya “kebanggaan” akan perusahaan dimana saya bekerja.

Bukannya narsis, kinerja saya tidak jelek juga tidak sangat baik, bisa dibilang cukup baik, mengabdi pada perusahaan sudah lebih dari 5 tahun, bekerja selama ini juga tanpa masalah, dengan nilai kinerja yang cukup baik membawa saya mendapat kompensasi yang “lebih”, berupa bonus dari perusahaan yang sedikit lebih tinggi dibanding dengan rekan sekerja yang lain. Kebanggaan akan kinerja yang baik, kerjasama team yang bagus akan semakin meningkat itulah harapan kami, setelah kedatangan seorang atasan langsung kami yang baru sebagai konsekuensi adanya promosi jabatan dari perusahaan.Dengan memberikan julukan “sayang” kepada supervisor kami “juragan cilik”, kami berusaha membangun keakraban demi terciptanya hubungan kerja maupun kerjasama team yang baik. Pembenahan dilakukan disana-sini, terutama masalah administrasi, meskipun notabene saya bukan pekerja kantoran yang selalu duduk di belakang meja dan selalu menghadap ke sebuah PC, saya hanyalah seorang pekerja lapangan yang sifatnya operasional. Tapi OK-lah, toh ini akan membawa dampak yang positif….saya harus dukung gerakan itu meskipun harus menghabiskan berlembar-lembar kertas yang sangat berbalik 180 derajat dengan era digital sekarang yaitu : paperless.

Suatu kali di masa-masa awal atasan kami bergabung, pernah terjadi obrolan di atas meja makan, ibarat orang akan berperang tapi belum tahu atau belum tergambar bagaimana medan perangnya, munculah pernyataan-pernyataan yang sungguh menjanjikan, kalau ditarik garis besarnya mungkin adanya “perubahan”. Sesuatu yang selama ini sungguh saya dan teman-teman sekerja idam-idamkan dan tanpa disadari hal itu justru memacu kami semua untuk bekerja lebih baik lagi untuk menunjukkan kinerja yang bagus dan menciptakan suatu prestasi. Terus terang saja saat itu kami merasa akan mempunyai seorang atasan yang mampu mengayomi dan senantiasa berpihak kepada kami. Bagaimana tidak, pada saat itu beberapa orang diantara kami berkeluh kesah tentang suatu hal yang selama ini menjadi suatu ganjalan mendapatkan respon dengan jawaban laksana angin segar.....'kita akan fight...", dalam hati saya hanya berucap "mudah-mudahan saja bisa".

Waktu terus berjalan, hari demi hari, bulan demi bulan dan hampir setahun saya bekerja sama dengan atasan kami yang baru tapi semangat kerja ini kok semakin melorot, sepertinya saya sendiri susah untuk menggapai harapan yang telah kami gantungkan bersama. Saya merasa situasi kerja menjadi tidak nyaman, hubungan kerja antara atasan dan bawahan kurang baik, kerjasama team menjadi tidak solid lagi. Ada apa ini? Apa hanya saya saja yang merasakan hal seperti ini, saya coba berdiskusi dengan beberapa orang teman sekerja yang lain atau terkadang terlibat perbincangan kecil dengan hanya satu atau dua orang teman sekerja. Meskipun demikian, saya punya intuisi lain, karena selama ini ada perubahan gaya kepemimpinan, apa memang itu masalahnya? Ternyata tidak beda jauh dengan apa yang saya rasakan, juga dialami oleh beberapa teman sekerja yang saya ajak berdiskusi. Siapa yang merusak semangat kerja kami? Diri kami sendiri atau atasan kami, yang membuat kami merasa tidak nyaman dengan pekerjaan atau dianggap seperti anak kecil dibanding orang dewasa yang bisa bertanggung-jawab dengan pekerjaannya. Saya sendiri hanya seorang manusia yang tidak lepas dari kekhilafan dan kesalahan, tapi dalam bekerja saya harus mengutamakan hasil yang maksimal dengan tetap memperhatikan faktor keamanan dan prosedur…itu adalah harga mati seorang karyawan seperti saya, meskipun terkadang harus “dimarahi” jika ada kesalahan dan tidak menerima seusatu yang tulus meskipun itu hanya kata” terima kasih”.
Saya kemudian berpikir lagi, atau mungkin ada hal lain yang ikut menyumbang, yang membuat semangat kerja saya dan teman sekerja menjadi turun, atau ada "sesuatu" yang seperti ini :

Himbauan unt semua. Tlg perbaiki komunikasi bersama, hp agar selalu dimonitor dan aktif. bila ada info\instruksi dr saya agar direspon. bila ada masalah , sekecil apapun harus diinfokan ke semua #@$@$(maaf- disensor) dan saya, minimal sms terutama selama nonworking hour. Detail dikirim by email. bila himbauan ini tdk dihiraukan, akan saya tindak. Tq
atau,
Pd waktu off duty ataupun cuti, agar selalu aktifkan hp krn mungkin ada info yg penting dr saya atau kantor. Bila siapa yg tdkmenghiraukan, saya rekomendasikan penghentian telp allowance atau surat peringatan. Tq atas kerjasamanya!

Sesuatu diatas itu adalah salah satu contoh pesan singkat yang berasal dari atasan saya, seperti itukah gaya seorang pemimpin? Atau itu adalah cermin dari kekuasaan seorang pemimpin yang terkadang tidak memikirkan orang lain? Memerintah dengan semaunya…memerintah hanya dilandasi dengan faktor kekuasaan yang dimiliki. Jujur, saya membaca pesan singkat tersebut sangat kaget, pesan singkat itu terkesan ada unsur intimidasi dan ancaman.
Berikut ini contoh lainnya, sebuah pesan singkat lain yang datang dari atasan saya :
telp saya skrg!

Atau juga pernah dihadapan beberapa orang diantarnya saya, seorang teman sekerja dan seorang pekerja outsourching, bukannya kami dalam suasana canda, tapi kami benar-benar sedang membicarakan sesuatu yang bisa dikatakan cukup serius. Atasan kami berbicara dengan lantang :

“Perkataan saya bisa merubah nasib seseorang”

,sungguh luar biasa atasan saya, tanpa disadari kesombongan atasan saya dipertunjukkan dihadapan kami dan mungkin tanpa saya sadari kalimat itu adalah kalimat untuk menjatuhkan seseorang di muka umum Disinilah wibawa seorang atasan diuji, apa dengan mengirimkan pesan singkat atau memberikan pernyataan tersebut diatas, itu akan menunjukkan kewibawaan? Saya pribadi menjawab tidak, tidak sepatutnya seorang atasan melakukan hal seperti itu, tentu saya tidak akan segan dan simpati terhadap beliau justru akan menambah empati saya terhadap beliau. Perasaan ini tidak hanya saya rasakan sendiri, beberapa teman sekerja juga mengalami hal yang sama. Apa yang terjadi dengan semakin bertambahnya empati terhadap atasan, perintah dari atasan dikerjakan tanpa dilandasi dengan ke-ikhlasan untuk bekerja, kalau mengadopsi bahasa Jawa bisa dikatakan “gerundel ning mburi” atau kalau di-bahasa Indonesia-kan menjadi suatu kekesalan yang berupa kalimat-kalimat yang hanya dibicarakan dibelakang atasan kita. Ini sungguh mempengaruhi kinerja team, team menjadi tidak solid lagi, bagaimana mau solid, kecil kemungkinan kita minta tolong teman kerja dalam team, di sisi lain teman tersebut bekerja dengan tidak ikhlas, hubungan kerja antar anggota team menjadi tidak baik. Meskipun dengan kondisi teresebut diatas, ada beberapa prestasi yang diraih oleh departemen kami, inilah gambaran yang sedikit bertolak belakang “meskipun kerja setengah tidak ikhlas, tapi masih bisa berprestasi”. Seandainya tercipta hubungan kerja yang baik, situasi kerja yang nyaman dan aman serta kerjasama team tetap terjaga, tidak mungkin akan tercipta prestasi-prestasi lain yang lebih baik dan lebih banyak.
Kembali saya merenungi hal ini, sebenarnya kalo kita kaji lebih dalam, seorang pemimpin yang mampu mengayomi dan selalu mendukung hal yang baik kepada anak buah, tentunya akan berdampak positif bagi semua elemen dalam perusahaan, baik itu pemimpin itu sendiri, atasan yang lain dan rekan kerja yang lain, yang kesemua-nya itu akan mengganbarkan kinerja perusahaan itu sendiri.
Mungkin yang saya dan teman sekerja butuhkan saat ini adalah seorang atasan yang mau “di-kritisi” dengan harapan beliau bisa mengevaluasi diri demi untuk kemajuan dirinya maupun kemajuan bersama. Setidak-tidaknya, atasan kami tidak perlu mengaca pada orang yang mempunya level yang sama, bisa juga hanya mengaca pada bawahannya.

Perlu diingat, sebagai seorang bawahan kita tidak bisa memilih siapa yang akan menjadi atasan kita, kita juga tidak salah kalau mendapat atasan yang “buruk”. Kembali lagi, kita coba mensikapi kenyataan ini jika atasan saya seperti gambaran diatas tergolong atasan yang “buruk”. Kalau memang memungkinkan, dengan segenap keyakinan, usaha dan doa , saya disini berusaha merubah paradigma akan atasan saya yang “buruk” sebagai sebuah keberuntungan.

Perlu sekali disadari, gaya kepemimpinan atasan yang baru akan berbeda dengan gaya kepemimpinan atasan yang lama, ada suatu kekagetan pada tiap bawahan yang notabene tidak ada hubungan kerja langsung sebelumnya. Entah karena faktor tersebut, yang mengakibatkan adanya suatu ketidaknyamanan situasi kerja pada level bawah atau mungkin ada faktor lain. Tidak bisa dipungkiri, ini menyangkut faktor eksternal, misalnya : adanya “tekanan” , tekanan dari pimpinan yang lebih atas dari atasan kami berupa target kerja, tekanan waktu, tekanan masalah atau juga faktor internal dari diri atasan saya sendiri, misalnya : mudah untuk emosi yang menyebabkan sulit untuk mengontrol diri terutama di depan bawahan, plin-plan, manipulatif, eksploitatif, merebut pujian untuk diri sendiri, terkadang “tidak mau tahu”. Adanya perintah-perintah yang tanpa dilengkapi dengan solusi, padahal di sisi lain bawahan sudah berjuang untuk mengatasi suatu masalah yang muncul.
Kalau kita kaji kembali, hal-hal diatas, terutama faktor internal merupakan sesuatu yang dapat kita anggap sebagai kesalahan atasan kita.
Sering saya bertanya-tanya, atasan saya ini menganut gaya kepemimpinan yang bagaimana ya? Apakah dia seorang atasan yang birokratis atau seorang atasan yang luwes dan fleksibel atau seorang atasan yang konsultatif atau seorang atasan yang non konsultatif atau seorang atasan yang senang akan detail-detail atau sebaliknya seorang atasan yang hanya suka dengan garis besar saja atau seorang atasan yang kreatif atau seorang atasan yang teratur atau sebaliknya atasan yang tidak teratur atau atasan yang proaktif atau malah atasan yang reaktif. Sungguh membingungkan untuk menggambarkan seorang atasan saya ini. Mungkin terkadang dalam satu waktu tertentu beliau termasuk dalam satu tipe gaya diatas, tapi di lain waktu beliau termasuk dalam gaya kepemimpinan yang lainnya. Atau mengambil dari referensi lainnya, atasan langsung saya ini termasuk kategori pimpinan yang bagaimana ? Pimpinan yang disegani atau pimpinan yang pemarah sehingga ditakuti. Kalau boleh dibandingkan, pemimpin yang disegani akan selalu menjunjung tinggi keadilan sehingga muncul sikap yang tegas, berbeda dengan pimpinan yang pemarah, segala sesuatunya akan dilandasi oleh nafsu yang tentunya akan justru menjatuhkan wibawanya sendiri dihadapan bawahan. Memang tidak ada atasan yang sempurna tapi tidak sedikit atasan yang baik.


Di sisi lain, terkadang muncul adanya perbedaan pendekatan kerja atau dalam mengolah masalah, ini dapat menimbulkan ketegangan, kebingungan atau yang lebih parah masalah hubungan jangka panjang yang tidak baik. Di sinilah, peran kita sebagai bawahan untuk sesekali menyesuaikan diri dengan pendekatan masalah versi atasan kita, itupun kalau kita anggap memang jalan yang memudahkan dan akan mencipatakan solusi yang baik. Tetapi, apa jadinya kalo atasan kita, yang notabene kita bekerja dalam ruang lingkup teknis, beliau tidak menguasai masalah teknis……sungguh rumit, di satu sisi ego seorang pimpinan terkadang tidak bisa dihilangkan dan bisa jadi kondisi di lapangan berbeda dengan yang ada di dalam pikiran atasan kita meskipun bawahan sudah memberikan penjelasan sedetail mungkin tapi tetap saja seakan semuanya itu sia-sia, yang akhirnya memunculkan perintah-perintah tanpa dilengkapi solusi.

Sekedar mengingatkan bahwa tulisan ini semata-mata memandang dari satu sisi saja “seorang bawahan”. Beberapa hal diatas mungkin hanya sebagian kecil saja dari beraneka ragam masalah hubungan antara atasan dan bawahan, dan itu kebetulan muncul dalam lingkungan kerja saya. Terkadang sebelum tidur, saya kembali merenung, apa yang terjadi dalam lingkungan kerja saya, hubungan yang kurang harmonis antara saya dan atasan, kinerja team yang kurang baik. Mungkinkah sudut pandang antara bawahan dan sudut pandang atasan ber-sinergi untuk mendapat sudut pandang bersama yang baik, yang nantinya menciptakan aura positif dalam lingkungan kerja ? dalam pikiran saya, itu mungkin sekali. Paling tidak antara atasan dan bawahan sudah saling mengenal , terlebih sekali seorang atasan harus benar-benar mengenal dirinya sendiri sebelum terjun untuk mengenal orang lain yang akan beliau pimpin. Selanjutnya, adanya kebersamaan dan membangun pengertian tentang peran masing-masing dan tujuan yang akan dicapai. Kebersamaan yang dibangun harus juga dilandasi dengan rasa saling memahami tidak dilandasi sikap saling curiga dan tidak percaya alias negative thinking. Sebaliknya senantiasa antara bawahan dan atasan selalu mengarah untuk berpikir secara positif (positive thinking), sehingga segala sesuatu yang bisa menimbulkan gesekan dalam hubungan kerja bisa disingkirkan, sesuatu yang sulit akan dibuat lebih mudah, sesuatu yang mudah akan dibuat lebih mudah, bukan sebaliknya. Perlu diingat bahwa seseorang bisa menjadi besar itu tidak hanya peran dari diri sendiri tapi juga andil dari lingkungannya, baik bawahan, teman sejawat, atasan, keluarga dan lingkungan kerja yang baik.

Berikut adalah cuplikan beberapa hal mengenai kewibawaan seorang pemimpin, saya ambil dari taushiyah Aa’ Gym pada website ICMI (
www.icmi.or.id), berjudul : Membangun Kewibawaan cara Rasulullah.
Mengapa Rasulullah SAW memiliki pengaruh luar biasa? Sebabnya, Rasulullah SAW sangat efektif dalam berdakwah. Dan efektifitas ini sangat dipengaruhi oleh besarnya wibawa yang beliau miliki. Ya, Rasulullah SAW adalah sosok yang sangat berwibawa. Kata-katanya didengar, perilakunya diteladani, dan perintahnya diikuti.
Dengan wibawanya, beliau pun bisa mengubah orang tanpa menyakiti. Luar biasa.
Pertanyaannya, mengapa beliau berwibawa? Ada lima penyebab. Pertama, sesuainya antara ucapan dengan perbuatan. Kedua, tidak melakukan banyak kesalahan. Ketiga, tidak emosional. Keempat, tidak banyak bicara dan humor. Kelima, konsisten, teguh pendirian dan tidak plinplan.
Semoga kita bisa meneladani Rasulullah SAW dengan menjadi manusia berwibawa, sehingga kita bisa mengubah orang lain secara efektif. Amin.
(KH Abdullah Gymnastiar )

Ini ada sedikit cuplikan pencerahan dari bapak Mario Teguh mengenai Kepemimpinan yang efektif :

Untuk itu, siapapun akan mencapai kepantasan sebagai seorang pemimpin, bila ia membiasakan dirinya untuk meninggikan orang lain, tanpa merendahkan dirinya sendiri.
Dengannya, bila Anda berada dalam kendali yang baik, maka mereka akan merasa tenang dalam kepemimpinan Anda, lalu kemudian bila mereka merasa lebih percaya diri dalam kepemimpinan Anda, maka Anda adalah seorang pemimpin yang berwibawa.
Mohon Anda perhatikan bahwa, kewibawaan kepemimpinan seseorang dapat didefinisikan sebagai pesona pribadi yang memenangkan persetujuan orang lain, untuk bersikap dan berlaku sebagaimana yang dipimpinnya.
Dengannya, semua pemimpin yang berhasil membangun kebesaran organisasinya, selalu adalah pemimpin yang dekat dengan mereka yang dipimpinnya.
Sadarilah bahwa dia yang tidak melakukan hal-hal yang mendatangkan kebaikan bagi mereka yang dipimpinnya, telah menunda tercapainya kebaikan yang menjadikan hak mereka.
Maka kembangkanlah praktik-praktik kepemimpinan dan proses operasi yang membangun keceriaan dan keleluasaan untuk mencapai hasil lebih.
Marilah kita menjadi pribadi-pribadi yang perbedaannya adalah kemampuan untuk mengubah yang biasa, menjadi luar biasa.
Perhatikanlah, sebuah organisasi tidak mungkin bisa bergerak mendekati bentuk kreatifitas apapun, bila sang pemimpin menjadikan dirinya sendiri sebagai contoh utama dalam penolakan cara-cara yang lebih baik.
Sebagai seorang bawahan, saya tidak boleh menyerah, ada suatu kalimat penyemangat dari bapak Mario Teguh yang saya kutip dari Mario Teguh Star Point (www. Mtsuperclub.com), yaitu :

Orang-orang yang mengenal mengapa dia harus berhasil. akan lebih tahan terhadap gangguan-gangguan ketidakpastian didalam proses bekerja, didalam proses hidup.

, tanpa sengaja juga saya menemukan jawaban dari pertanyaan yang mungkin tidak beda jauh dengan apa yang saya alami sekarang dengan atasan :

Anda pasti gelisah menghadapi atasan Anda yang menurut Anda reaktif dan mau menang sendiri. Mohon diingat hanya karena kita gelisah mengenai keadaan kita sekarang, Anda akan mendapatkan kekuatan yang diperlukan untuk berpindah ke keadaan yang baru yang lebih baik (www.mtsrw.com)

Sekarang kita mencoba untuk berpikir positif, demi kemajuan diri kita sendiri khususnya, apa yang terjadi pada tulisan diatas, mungkin sebagai bawahan bisa mensikapi dengan berbagai cara ;
1. Berusaha memahami tekanan-tekanan yang dialami atasan saya, yang akhirnya juga kita dapat memahami atasan dari atasan kita. Jika kita sudah bisa memahami pandangan atasan kita, perlu kita melihat posisi diri kita.
2. Terkadang kita harus menjadi pendengar yang baik.
3. Mampu mengatasi emosi diri saat emosi kita lagi meningkat.
4. Menjalankan kewajiban sesuai dengan posisi, berpegang pada aturan perusahaan.

Sebagai seorang karyawan, kita pasti punya seorang atasan, namun terkadang atasan yang baik-pun sulit untuk dihadapai apalagi dengan atasan yang buruk.
Seandainya cara-cara diatas sudah kita tempuh namun tetap tidak menyelesaikan masalah ya kita kembalikan ke diri anda masing-masing dalam mensikapi atasan anda.
Baca Selengkapnya......

Sabtu, Desember 06, 2008

Ada sesuatu yang bisa dipetik disini

Dari email yang saya terima, cerita ini adalah pengalaman dari seorang Andy F Noya, betul atau tidak tapi kita bisa menemukan seusatu yang positif di dalamnya.

Suatu malam, sepulang kerja, saya mampir di sebuah restoran cepat saji dikawasan Bintaro. Suasana sepi. Di luar hujan. Semua pelayan sudah berkemas.Restoran hendak tutup. Tetapi mungkin melihat wajah saya yang memelas karena lapar, salah seorang dari mereka memberi aba-aba untuk tetap melayani. Padahal, jika mau, bisa saja mereka menolak.Sembari makan saya mulai mengamati kegiatan para pelayan restoran. Ada yang menghitung uang, mengemas peralatan masak, mengepel lantai dan ada pula yang membersihkan dan merapikan meja-meja yang berantakan.Saya membayangkan rutinitas kehidupan mereka seperti itu dari hari ke hari. Selama ini hal tersebut luput dari perhatian saya. Jujur saja, jika menemani anak-anak makan di restoran cepat saji seperti ini, saya tidak terlalu hirau akan keberadaan mereka. Seakan mereka antara ada dan tiada. Mereka ada jika saya membutuhkan bantuan dan mereka serasa tiada jika saya terlalu asyik menyantap makanan.Namun malam itu saya bisa melihat sesuatu yang selama ini seakan tak terlihat. Saya melihat bagaimana pelayan restoran itu membersihkan sisa-sisa makanan di atas meja. Pemandangan yang sebenarnya biasa-biasa saja. Tetapi, mungkin karena malam itu mata hati saya yang melihat, pemandangan tersebut menjadi istimewa.Melihat tumpukan sisa makan di atas salah satu meja yang sedang dibersihkan, saya bertanya-tanya dalam hati: siapa sebenarnya yang baru saja bersantap di meja itu? Kalau dilihat dari sisa-sisa makanan yang berserakan, tampaknya rombongan yang cukup besar. Tetapi yang menarik perhatian saya adalah bagaimana rombongan itu meninggalkan sampah bekas makanan.Sungguh pemandangan yang menjijikan. Tulang-tulang ayam berserakan di atas meja. Padahal ada kotak-kotak karton yang bisa dijadikan tempat sampah.Nasi di sana-sini. Belum lagi di bawah kolong meja juga kotor oleh tumpahan remah-remah. Mungkin rombongan itu membawa anak-anak.Meja tersebut bagaikan ladang pembantaian. Tulang belulang berserakan. Saya tidak habis pikir bagaimana mereka begitu tega meninggalkan sampah berserakan seperti itu. Tak terpikir oleh mereka betapa sisa-sisa makanan yang menjijikan itu harus dibersihkan oleh seseorang, walau dia seorang pelayan sekalipun.Sejak malam itu saya mengambil keputusan untuk membuang sendiri sisa makanan jika bersantap di restoran semacam itu. Saya juga meminta anak-anak melakukan hal yang sama. Awalnya tidak mudah. Sebelum ini saya juga pernah melakukannya. Tetapi perbuatan saya itu justru menjadi bahan tertawaan teman-teman. Saya dibilang sok kebarat-baratan. Sok menunjukkan pernah keluar negeri. Sebab di banyak negara, terutama di Eropa dan Amerika, sudah jamak pelanggan membuang sendiri sisa makanan ke tong sampah. Pelayan terbatas karena tenaga kerja mahal.Sebenarnya tidak terlalu sulit membersihkan sisa-sisa makanan kita. Tinggal meringkas lalu membuangnya di tempat sampah. Cuma butuh beberapa menit. Sebuah perbuatan kecil. Tetapi jika semua orang melakukannya, artinya akan besar sekali bagi para pelayan restoran.Saya pernah membaca sebuah buku tentang perbuatan kecil yang punya arti besar. Termasuk kisah seorang bapak yang mengajak anaknya untuk membersihkan sampah di sebuah tanah kosong di kompleks rumah mereka. Karena setiap hari warga kompleks melihat sang bapak dan anaknya membersihkan sampah di situ, lama-lama mereka malu hati untuk membuang sampah disitu.Belakangan seluruh warga bahkan tergerak untuk mengikuti jejak sang bapak itu dan ujung-ujungnya lingkungan perumahan menjadi bersih dan sehat. Padahal tidak ada satu kata pun dari bapak tersebut. Tidak ada slogan, umbul-umbul, apalagi spanduk atau baliho. Dia hanya memberikan keteladanan. Keteladanan kecil yang berdampak besar.Saya juga pernah membaca cerita tentang kekuatan senyum. Jika saja setiap orang memberi senyum kepada paling sedikit satu orang yang dijumpainya hariitu, maka dampaknya akan luar biasa. Orang yang mendapat senyum akan merasa bahagia. Dia lalu akan tersenyum pada orang lain yang dijumpainya.Begitu seterusnya, sehingga senyum tadi meluas kepada banyak orang. Padahal asal mulanya hanya dari satu orang yang tersenyum.Terilhami oleh sebuah cerita di sebuah buku "Chiken Soup", saya kerap membayar karcis tol bagi mobil di belakang saya. Tidak perduli siapa di belakang. Sebab dari cerita di buku itu, orang di belakang saya pasti akan merasa mendapat kejutan. Kejutan yang menyenangkan. Jika hari itu dia bahagia, maka harinya yang indah akan membuat dia menyebarkan virus kebahagiaan tersebut kepada orang-orang yang dia temui hari itu. Saya berharap virus itu dapat menyebar ke banyak orang.Bayangkan jika Anda memberi pujian yang tulus bagi minimal satu orang setiap hari. Pujian itu akan memberi efek berantai ketika orang yang Anda puji merasabahagia dan menularkan virus kebahagiaan tersebut kepada orang-orang di sekitarnya.Anak saya yang di SD selalu mengingatkan jika saya lupa mengucapkan kata "terima kasih" saat petugas jalan tol memberikan karcis dan uang kembalian.Menurut dia, kata "terima kasih" merupakan "magic words" yang akan membuat orang lain senang. Begitu juga kata "tolong" ketika kita meminta bantuanorang lain, misalnya pembantu rumah tangga kita.Dulu saya sering marah jika ada angkutan umum, misalnya bus, mikrolet, bajaj, atau angkot seenaknya menyerobot mobil saya. Sampai suatu hari istri saya mengingatkan bahwa saya harus berempati pada mereka. Para supir kendaraan umum itu harus berjuang untuk mengejar setoran. "Sementara kamu kan tidak mengejar setoran?'' Nasihat itu diperoleh istri saya dari sebuahtulisan almarhum Romo Mangunwijaya. Sejak saat itu, jika ada kendaraan umum yang menyerobot seenak udelnya, saya segera teringat nasihat istri tersebut.Saya membayangkan, alangkah indahnya hidup kita jika kita dapat membuat orang lain bahagia. Alangkah menyenangkannya jika kita bisa berempati pada perasaan orang lain. Betapa bahagianya jika kita menyadari dengan membuang sisa makanan kita di estoran cepat saji, kta sudah meringankan pekerjaan pelayan restoran.Begitu juga dengan tidak membuang karcis tol begitu saja setelah membayar, ita sudah meringankan beban petugas kebersihan. Dengan tidak membuangpermen karet sembarangan, kita sudah menghindari orang dari perasaan kesal karena sepatu atau celananya lengket kena permen karet.Kita sering mengaku bangsa yang berbudaya tinggi tetapi berapa banyak di antara kita yang ketika berada di tempat-tempat publik, ketika membuka pintu, menahannya sebentar dan menoleh kebelakang untuk berjaga-jaga apakah ada orang lain di belakang kita? Saya pribadi sering melihat orang yang membuka pintu lalu melepaskannya begitu saja tanpa perduli orang di belakangnya terbentur oleh pintu tersebut.Jika kita mau, banyak hal kecil bisa kita lakukan. Hal yang tidak memberatkan kita tetapi besar artinya bagi orang lain. Mulailah dari hal-hal kecil-kecil. Mulailah dari diri Anda lebih dulu. Mulailah sekarang juga. Baca Selengkapnya......