Cerminan seorang bawahan yang peduli dengan lingkungan kerja dan kerjasama team, sebenarnya apa yang menjadi tujuan saya bekerja? yang ada di pikiran-saya dalam bekerja adalah hanya masalah “urusan perut” saja , tapi jangan salah, kalau dikembangkan “urusan perut” itu bisa mencakup yang pertama adalah “keadilan” alias diakuinya keberadaan diri saya dan adanya penghargaan terhadap apa yang telah saya kerjakan. Yang kedua adalah hubungan kerja yang baik dan kerjasama dalam team yang nantinya berujung pada lingkungan kerja yang nyaman dan aman. Selanjutnya “kebanggaan” akan perusahaan dimana saya bekerja.
Bukannya narsis, kinerja saya tidak jelek juga tidak sangat baik, bisa dibilang cukup baik, mengabdi pada perusahaan sudah lebih dari 5 tahun, bekerja selama ini juga tanpa masalah, dengan nilai kinerja yang cukup baik membawa saya mendapat kompensasi yang “lebih”, berupa bonus dari perusahaan yang sedikit lebih tinggi dibanding dengan rekan sekerja yang lain. Kebanggaan akan kinerja yang baik, kerjasama team yang bagus akan semakin meningkat itulah harapan kami, setelah kedatangan seorang atasan langsung kami yang baru sebagai konsekuensi adanya promosi jabatan dari perusahaan.Dengan memberikan julukan “sayang” kepada supervisor kami “juragan cilik”, kami berusaha membangun keakraban demi terciptanya hubungan kerja maupun kerjasama team yang baik. Pembenahan dilakukan disana-sini, terutama masalah administrasi, meskipun notabene saya bukan pekerja kantoran yang selalu duduk di belakang meja dan selalu menghadap ke sebuah PC, saya hanyalah seorang pekerja lapangan yang sifatnya operasional. Tapi OK-lah, toh ini akan membawa dampak yang positif….saya harus dukung gerakan itu meskipun harus menghabiskan berlembar-lembar kertas yang sangat berbalik 180 derajat dengan era digital sekarang yaitu : paperless.
Suatu kali di masa-masa awal atasan kami bergabung, pernah terjadi obrolan di atas meja makan, ibarat orang akan berperang tapi belum tahu atau belum tergambar bagaimana medan perangnya, munculah pernyataan-pernyataan yang sungguh menjanjikan, kalau ditarik garis besarnya mungkin adanya “perubahan”. Sesuatu yang selama ini sungguh saya dan teman-teman sekerja idam-idamkan dan tanpa disadari hal itu justru memacu kami semua untuk bekerja lebih baik lagi untuk menunjukkan kinerja yang bagus dan menciptakan suatu prestasi. Terus terang saja saat itu kami merasa akan mempunyai seorang atasan yang mampu mengayomi dan senantiasa berpihak kepada kami. Bagaimana tidak, pada saat itu beberapa orang diantara kami berkeluh kesah tentang suatu hal yang selama ini menjadi suatu ganjalan mendapatkan respon dengan jawaban laksana angin segar.....'kita akan fight...", dalam hati saya hanya berucap "mudah-mudahan saja bisa".
Waktu terus berjalan, hari demi hari, bulan demi bulan dan hampir setahun saya bekerja sama dengan atasan kami yang baru tapi semangat kerja ini kok semakin melorot, sepertinya saya sendiri susah untuk menggapai harapan yang telah kami gantungkan bersama. Saya merasa situasi kerja menjadi tidak nyaman, hubungan kerja antara atasan dan bawahan kurang baik, kerjasama team menjadi tidak solid lagi. Ada apa ini? Apa hanya saya saja yang merasakan hal seperti ini, saya coba berdiskusi dengan beberapa orang teman sekerja yang lain atau terkadang terlibat perbincangan kecil dengan hanya satu atau dua orang teman sekerja. Meskipun demikian, saya punya intuisi lain, karena selama ini ada perubahan gaya kepemimpinan, apa memang itu masalahnya? Ternyata tidak beda jauh dengan apa yang saya rasakan, juga dialami oleh beberapa teman sekerja yang saya ajak berdiskusi. Siapa yang merusak semangat kerja kami? Diri kami sendiri atau atasan kami, yang membuat kami merasa tidak nyaman dengan pekerjaan atau dianggap seperti anak kecil dibanding orang dewasa yang bisa bertanggung-jawab dengan pekerjaannya. Saya sendiri hanya seorang manusia yang tidak lepas dari kekhilafan dan kesalahan, tapi dalam bekerja saya harus mengutamakan hasil yang maksimal dengan tetap memperhatikan faktor keamanan dan prosedur…itu adalah harga mati seorang karyawan seperti saya, meskipun terkadang harus “dimarahi” jika ada kesalahan dan tidak menerima seusatu yang tulus meskipun itu hanya kata” terima kasih”.
Saya kemudian berpikir lagi, atau mungkin ada hal lain yang ikut menyumbang, yang membuat semangat kerja saya dan teman sekerja menjadi turun, atau ada "sesuatu" yang seperti ini :
Himbauan unt semua. Tlg perbaiki komunikasi bersama, hp agar selalu dimonitor dan aktif. bila ada info\instruksi dr saya agar direspon. bila ada masalah , sekecil apapun harus diinfokan ke semua #@$@$(maaf- disensor) dan saya, minimal sms terutama selama nonworking hour. Detail dikirim by email. bila himbauan ini tdk dihiraukan, akan saya tindak. Tq
atau,
Pd waktu off duty ataupun cuti, agar selalu aktifkan hp krn mungkin ada info yg penting dr saya atau kantor. Bila siapa yg tdkmenghiraukan, saya rekomendasikan penghentian telp allowance atau surat peringatan. Tq atas kerjasamanya!
Sesuatu diatas itu adalah salah satu contoh pesan singkat yang berasal dari atasan saya, seperti itukah gaya seorang pemimpin? Atau itu adalah cermin dari kekuasaan seorang pemimpin yang terkadang tidak memikirkan orang lain? Memerintah dengan semaunya…memerintah hanya dilandasi dengan faktor kekuasaan yang dimiliki. Jujur, saya membaca pesan singkat tersebut sangat kaget, pesan singkat itu terkesan ada unsur intimidasi dan ancaman.
Berikut ini contoh lainnya, sebuah pesan singkat lain yang datang dari atasan saya :
telp saya skrg!
Atau juga pernah dihadapan beberapa orang diantarnya saya, seorang teman sekerja dan seorang pekerja outsourching, bukannya kami dalam suasana canda, tapi kami benar-benar sedang membicarakan sesuatu yang bisa dikatakan cukup serius. Atasan kami berbicara dengan lantang :
“Perkataan saya bisa merubah nasib seseorang”
,sungguh luar biasa atasan saya, tanpa disadari kesombongan atasan saya dipertunjukkan dihadapan kami dan mungkin tanpa saya sadari kalimat itu adalah kalimat untuk menjatuhkan seseorang di muka umum Disinilah wibawa seorang atasan diuji, apa dengan mengirimkan pesan singkat atau memberikan pernyataan tersebut diatas, itu akan menunjukkan kewibawaan? Saya pribadi menjawab tidak, tidak sepatutnya seorang atasan melakukan hal seperti itu, tentu saya tidak akan segan dan simpati terhadap beliau justru akan menambah empati saya terhadap beliau. Perasaan ini tidak hanya saya rasakan sendiri, beberapa teman sekerja juga mengalami hal yang sama. Apa yang terjadi dengan semakin bertambahnya empati terhadap atasan, perintah dari atasan dikerjakan tanpa dilandasi dengan ke-ikhlasan untuk bekerja, kalau mengadopsi bahasa Jawa bisa dikatakan “gerundel ning mburi” atau kalau di-bahasa Indonesia-kan menjadi suatu kekesalan yang berupa kalimat-kalimat yang hanya dibicarakan dibelakang atasan kita. Ini sungguh mempengaruhi kinerja team, team menjadi tidak solid lagi, bagaimana mau solid, kecil kemungkinan kita minta tolong teman kerja dalam team, di sisi lain teman tersebut bekerja dengan tidak ikhlas, hubungan kerja antar anggota team menjadi tidak baik. Meskipun dengan kondisi teresebut diatas, ada beberapa prestasi yang diraih oleh departemen kami, inilah gambaran yang sedikit bertolak belakang “meskipun kerja setengah tidak ikhlas, tapi masih bisa berprestasi”. Seandainya tercipta hubungan kerja yang baik, situasi kerja yang nyaman dan aman serta kerjasama team tetap terjaga, tidak mungkin akan tercipta prestasi-prestasi lain yang lebih baik dan lebih banyak.
Kembali saya merenungi hal ini, sebenarnya kalo kita kaji lebih dalam, seorang pemimpin yang mampu mengayomi dan selalu mendukung hal yang baik kepada anak buah, tentunya akan berdampak positif bagi semua elemen dalam perusahaan, baik itu pemimpin itu sendiri, atasan yang lain dan rekan kerja yang lain, yang kesemua-nya itu akan mengganbarkan kinerja perusahaan itu sendiri.
Mungkin yang saya dan teman sekerja butuhkan saat ini adalah seorang atasan yang mau “di-kritisi” dengan harapan beliau bisa mengevaluasi diri demi untuk kemajuan dirinya maupun kemajuan bersama. Setidak-tidaknya, atasan kami tidak perlu mengaca pada orang yang mempunya level yang sama, bisa juga hanya mengaca pada bawahannya.
Perlu diingat, sebagai seorang bawahan kita tidak bisa memilih siapa yang akan menjadi atasan kita, kita juga tidak salah kalau mendapat atasan yang “buruk”. Kembali lagi, kita coba mensikapi kenyataan ini jika atasan saya seperti gambaran diatas tergolong atasan yang “buruk”. Kalau memang memungkinkan, dengan segenap keyakinan, usaha dan doa , saya disini berusaha merubah paradigma akan atasan saya yang “buruk” sebagai sebuah keberuntungan.
Perlu sekali disadari, gaya kepemimpinan atasan yang baru akan berbeda dengan gaya kepemimpinan atasan yang lama, ada suatu kekagetan pada tiap bawahan yang notabene tidak ada hubungan kerja langsung sebelumnya. Entah karena faktor tersebut, yang mengakibatkan adanya suatu ketidaknyamanan situasi kerja pada level bawah atau mungkin ada faktor lain. Tidak bisa dipungkiri, ini menyangkut faktor eksternal, misalnya : adanya “tekanan” , tekanan dari pimpinan yang lebih atas dari atasan kami berupa target kerja, tekanan waktu, tekanan masalah atau juga faktor internal dari diri atasan saya sendiri, misalnya : mudah untuk emosi yang menyebabkan sulit untuk mengontrol diri terutama di depan bawahan, plin-plan, manipulatif, eksploitatif, merebut pujian untuk diri sendiri, terkadang “tidak mau tahu”. Adanya perintah-perintah yang tanpa dilengkapi dengan solusi, padahal di sisi lain bawahan sudah berjuang untuk mengatasi suatu masalah yang muncul.
Kalau kita kaji kembali, hal-hal diatas, terutama faktor internal merupakan sesuatu yang dapat kita anggap sebagai kesalahan atasan kita.
Sering saya bertanya-tanya, atasan saya ini menganut gaya kepemimpinan yang bagaimana ya? Apakah dia seorang atasan yang birokratis atau seorang atasan yang luwes dan fleksibel atau seorang atasan yang konsultatif atau seorang atasan yang non konsultatif atau seorang atasan yang senang akan detail-detail atau sebaliknya seorang atasan yang hanya suka dengan garis besar saja atau seorang atasan yang kreatif atau seorang atasan yang teratur atau sebaliknya atasan yang tidak teratur atau atasan yang proaktif atau malah atasan yang reaktif. Sungguh membingungkan untuk menggambarkan seorang atasan saya ini. Mungkin terkadang dalam satu waktu tertentu beliau termasuk dalam satu tipe gaya diatas, tapi di lain waktu beliau termasuk dalam gaya kepemimpinan yang lainnya. Atau mengambil dari referensi lainnya, atasan langsung saya ini termasuk kategori pimpinan yang bagaimana ? Pimpinan yang disegani atau pimpinan yang pemarah sehingga ditakuti. Kalau boleh dibandingkan, pemimpin yang disegani akan selalu menjunjung tinggi keadilan sehingga muncul sikap yang tegas, berbeda dengan pimpinan yang pemarah, segala sesuatunya akan dilandasi oleh nafsu yang tentunya akan justru menjatuhkan wibawanya sendiri dihadapan bawahan. Memang tidak ada atasan yang sempurna tapi tidak sedikit atasan yang baik.
Di sisi lain, terkadang muncul adanya perbedaan pendekatan kerja atau dalam mengolah masalah, ini dapat menimbulkan ketegangan, kebingungan atau yang lebih parah masalah hubungan jangka panjang yang tidak baik. Di sinilah, peran kita sebagai bawahan untuk sesekali menyesuaikan diri dengan pendekatan masalah versi atasan kita, itupun kalau kita anggap memang jalan yang memudahkan dan akan mencipatakan solusi yang baik. Tetapi, apa jadinya kalo atasan kita, yang notabene kita bekerja dalam ruang lingkup teknis, beliau tidak menguasai masalah teknis……sungguh rumit, di satu sisi ego seorang pimpinan terkadang tidak bisa dihilangkan dan bisa jadi kondisi di lapangan berbeda dengan yang ada di dalam pikiran atasan kita meskipun bawahan sudah memberikan penjelasan sedetail mungkin tapi tetap saja seakan semuanya itu sia-sia, yang akhirnya memunculkan perintah-perintah tanpa dilengkapi solusi.
Sekedar mengingatkan bahwa tulisan ini semata-mata memandang dari satu sisi saja “seorang bawahan”. Beberapa hal diatas mungkin hanya sebagian kecil saja dari beraneka ragam masalah hubungan antara atasan dan bawahan, dan itu kebetulan muncul dalam lingkungan kerja saya. Terkadang sebelum tidur, saya kembali merenung, apa yang terjadi dalam lingkungan kerja saya, hubungan yang kurang harmonis antara saya dan atasan, kinerja team yang kurang baik. Mungkinkah sudut pandang antara bawahan dan sudut pandang atasan ber-sinergi untuk mendapat sudut pandang bersama yang baik, yang nantinya menciptakan aura positif dalam lingkungan kerja ? dalam pikiran saya, itu mungkin sekali. Paling tidak antara atasan dan bawahan sudah saling mengenal , terlebih sekali seorang atasan harus benar-benar mengenal dirinya sendiri sebelum terjun untuk mengenal orang lain yang akan beliau pimpin. Selanjutnya, adanya kebersamaan dan membangun pengertian tentang peran masing-masing dan tujuan yang akan dicapai. Kebersamaan yang dibangun harus juga dilandasi dengan rasa saling memahami tidak dilandasi sikap saling curiga dan tidak percaya alias negative thinking. Sebaliknya senantiasa antara bawahan dan atasan selalu mengarah untuk berpikir secara positif (positive thinking), sehingga segala sesuatu yang bisa menimbulkan gesekan dalam hubungan kerja bisa disingkirkan, sesuatu yang sulit akan dibuat lebih mudah, sesuatu yang mudah akan dibuat lebih mudah, bukan sebaliknya. Perlu diingat bahwa seseorang bisa menjadi besar itu tidak hanya peran dari diri sendiri tapi juga andil dari lingkungannya, baik bawahan, teman sejawat, atasan, keluarga dan lingkungan kerja yang baik.
Berikut adalah cuplikan beberapa hal mengenai kewibawaan seorang pemimpin, saya ambil dari taushiyah Aa’ Gym pada website ICMI (www.icmi.or.id), berjudul : Membangun Kewibawaan cara Rasulullah.
Mengapa Rasulullah SAW memiliki pengaruh luar biasa? Sebabnya, Rasulullah SAW sangat efektif dalam berdakwah. Dan efektifitas ini sangat dipengaruhi oleh besarnya wibawa yang beliau miliki. Ya, Rasulullah SAW adalah sosok yang sangat berwibawa. Kata-katanya didengar, perilakunya diteladani, dan perintahnya diikuti.
Dengan wibawanya, beliau pun bisa mengubah orang tanpa menyakiti. Luar biasa.
Pertanyaannya, mengapa beliau berwibawa? Ada lima penyebab. Pertama, sesuainya antara ucapan dengan perbuatan. Kedua, tidak melakukan banyak kesalahan. Ketiga, tidak emosional. Keempat, tidak banyak bicara dan humor. Kelima, konsisten, teguh pendirian dan tidak plinplan.
Semoga kita bisa meneladani Rasulullah SAW dengan menjadi manusia berwibawa, sehingga kita bisa mengubah orang lain secara efektif. Amin.
(KH Abdullah Gymnastiar )
Ini ada sedikit cuplikan pencerahan dari bapak Mario Teguh mengenai Kepemimpinan yang efektif :
Untuk itu, siapapun akan mencapai kepantasan sebagai seorang pemimpin, bila ia membiasakan dirinya untuk meninggikan orang lain, tanpa merendahkan dirinya sendiri.
Dengannya, bila Anda berada dalam kendali yang baik, maka mereka akan merasa tenang dalam kepemimpinan Anda, lalu kemudian bila mereka merasa lebih percaya diri dalam kepemimpinan Anda, maka Anda adalah seorang pemimpin yang berwibawa.
Mohon Anda perhatikan bahwa, kewibawaan kepemimpinan seseorang dapat didefinisikan sebagai pesona pribadi yang memenangkan persetujuan orang lain, untuk bersikap dan berlaku sebagaimana yang dipimpinnya.
Dengannya, semua pemimpin yang berhasil membangun kebesaran organisasinya, selalu adalah pemimpin yang dekat dengan mereka yang dipimpinnya.
Sadarilah bahwa dia yang tidak melakukan hal-hal yang mendatangkan kebaikan bagi mereka yang dipimpinnya, telah menunda tercapainya kebaikan yang menjadikan hak mereka.
Maka kembangkanlah praktik-praktik kepemimpinan dan proses operasi yang membangun keceriaan dan keleluasaan untuk mencapai hasil lebih.
Marilah kita menjadi pribadi-pribadi yang perbedaannya adalah kemampuan untuk mengubah yang biasa, menjadi luar biasa.
Perhatikanlah, sebuah organisasi tidak mungkin bisa bergerak mendekati bentuk kreatifitas apapun, bila sang pemimpin menjadikan dirinya sendiri sebagai contoh utama dalam penolakan cara-cara yang lebih baik.
Sebagai seorang bawahan, saya tidak boleh menyerah, ada suatu kalimat penyemangat dari bapak Mario Teguh yang saya kutip dari Mario Teguh Star Point (www. Mtsuperclub.com), yaitu :
Orang-orang yang mengenal mengapa dia harus berhasil. akan lebih tahan terhadap gangguan-gangguan ketidakpastian didalam proses bekerja, didalam proses hidup.
, tanpa sengaja juga saya menemukan jawaban dari pertanyaan yang mungkin tidak beda jauh dengan apa yang saya alami sekarang dengan atasan :
Anda pasti gelisah menghadapi atasan Anda yang menurut Anda reaktif dan mau menang sendiri. Mohon diingat hanya karena kita gelisah mengenai keadaan kita sekarang, Anda akan mendapatkan kekuatan yang diperlukan untuk berpindah ke keadaan yang baru yang lebih baik (www.mtsrw.com)
Sekarang kita mencoba untuk berpikir positif, demi kemajuan diri kita sendiri khususnya, apa yang terjadi pada tulisan diatas, mungkin sebagai bawahan bisa mensikapi dengan berbagai cara ;
1. Berusaha memahami tekanan-tekanan yang dialami atasan saya, yang akhirnya juga kita dapat memahami atasan dari atasan kita. Jika kita sudah bisa memahami pandangan atasan kita, perlu kita melihat posisi diri kita.
2. Terkadang kita harus menjadi pendengar yang baik.
3. Mampu mengatasi emosi diri saat emosi kita lagi meningkat.
4. Menjalankan kewajiban sesuai dengan posisi, berpegang pada aturan perusahaan.
Sebagai seorang karyawan, kita pasti punya seorang atasan, namun terkadang atasan yang baik-pun sulit untuk dihadapai apalagi dengan atasan yang buruk.
Seandainya cara-cara diatas sudah kita tempuh namun tetap tidak menyelesaikan masalah ya kita kembalikan ke diri anda masing-masing dalam mensikapi atasan anda.
Baca Selengkapnya......