Sabtu, Desember 13, 2008

J 06 ED .........sebuah tradisi......

Sekedar sharing seputar masalah sosial..........
Beberapa hari yang lalu kami (saya + teman-teman sekerja) mendapat sebuah undangan acara pernikahan salah seorang warga di pulau tempat lokasi kami bekerja. Seperti sebelum-sebelumnya, setiap ada acara pernikahan atau khitan, kami selalu mendapat undangan, merupakan sebuah kehormatan untuk kami menghadirinya sebagai bukti bahwa kami adalah bagian dari pulau ini, sebuah pulau yang terletak di dekat perbatasan Indonesia - Singapura. Dan seperti biasa pula, hiburan yang tertulis adalah "joged". Inilah yang mengusik saya untuk menuangkan dalam blog ini.
"joged" bisa dikatakan sebagai sebuah "tradisi" di pulau ini dan pulau-pulau lain di sekitarnya. Acara ini umumnya ditampilkan/dilaksanakan pada saat salah satu keluarga "berada" mempunyai acara "besar", yang paling banyak pada acara pernikahan. Biasanya si empunya acara akan mengontrak grup joged tersebut untuk tampil pada acaranya. Dilaksanakan umumnya 2-3 malam, dimulai pada H-1 malam sampai pada hari H atau H+1, dari sore hari sampai dini hari.
Malam itu, sekedar refreshing mencoba untuk merelaksasi diri, kami berboncengan menuju lokasi, kebetulan kami sedikit ingin melihat keramaian (cermin sebagai makhluk sosial), maklum hari berganti hari kehidupan kami selama 2 minggu bekerja hanya bertemu orang yang sama saja....
Saya sendiri baru kali pertama melihat acara ini, cukup ramai saat itu meskipun malam itu bukan malam minggu, terlihat kelompok-kelompok pemuda, ada juga yang berpasang-pasangan. Kebetulan saat itu kami ketemu dengan pegawai supporting kami, yang merupakan warga pulau setempat, perbincangan hangat-pun tidak terelakkan, sampai akhirnya saya baru tahu bahwa kebanyakan para pemuda yang berkelompok itu sedang "menghangatkan" badan, "....sudah biasa pak, sebelum joged, menghangatkan badan dulu....", "menghangatkan" badan dengan minum - minuman "sedikit" beralkohol, ini menjadi hal yang di-"legal"-kan oleh masyarakat sekitar ("legal" hanya pada saat ada acara "joged" ini saja). Dan yang membuat saya terheran-heran, acara keramaian seperti ini, hanya dijaga oleh beberapa orang anggota keamanan saja, ternyata selidik punya selidik mereka mempunyai aturan tidak tertulis, "kalau mabuk dan membuat rusuh ya mau nggak mau disuruh pulang atau bahkan dipulangkan". Menurut teman sekerja saya, selama dia beberapa kali menonton acara yang sama, belum pernah terjadi keributan.
Sebenarnya apakah "joged" itu ? terkesan mirip dengan diskotik, cuman yang membuat beda adalah disini tempatnya terbuka, lagu yang mengiringi biasanya tidak full version, artinya lagu-nya hanya setengah saja, lalu disambung dengan lagu berikutnya sampai lagu ke-10. Ada seorang operator merangkap sebagai "dj" yang mengoperasikan seperangkat audio player, mixer dan sebuah keyboard (mungkin kalo di daerah lain bisa juga disebut "electone"), ditemani juga seorang atau lebih penyanyi, umumnya penyanyi wanita. Lagu pengiring beraliran dangdut atau house music, kebanyakan musik ditampilkan dengan vokal penyanyi "asli-nya" dibandingkan dengan penampilan si penyanyi. Sebagai maskot dari acara ini adalah para penari-nya, biasanya 5-10 orang gadis-gadis muda. Ternyata yang namanya joged tidak lain adalah berjoged dengan alunan musik ditemani oleh para gadis penari ini. Jangan salah, meskipun para penarinya gadis-gadis muda, banyak juga dari kaum hawa yang kebanyakan berusia ABG juga ikut bergabung.
Tidak gratis untuk ber-joged dengan para penari ini, ditambah juga harus mengumpulkan beberapa teman untuk menjadi satu grup sesuai dengan jumlah penarinya. Informasi dari teman sekerja, biasanya tiap orang diwajibkan untuk membayar kurang lebih Rp. 3000,- untuk sebuah lagu, dan setiap putaran umumnya 10 lagu, jadi total tiap orang harus membayar Rp. 30.000,-. Bisa dibayangkan omzet dari grup ini satu malam, seandanyainya paling sedikit 10 grup yang ber-joged, minimal Rp. 3 juta bisa dikantongi.....Pembayaran dilakukan pada sang operator yang merangkap "dj" tadi, selanjutnya si operator akan memberikan nomor antrian, jadi si pemuda atau si gadis harus menunggu giliran dipanggil. Pada saat gilirannya dipanggil, maka mereka langsung menghampiri para gadis penarinya, ya mungkin bisa saja terjadi perebutan antar teman terutama para pemuda yang tentunya memilih gadis yang paling "cling". Kalau anggota grup yang dipanggil itu sudah lengkap, langsung dimulai dengan lagu pertama, joged-pun dimulai sampai dengan lagu yang terakhir.
Mungkin ini hanya sebagai gambaran, betapa besarnya gempuran budaya asing terhadap budaya lokal. Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, mari kita selamatkan budaya daerah/budaya nasional yang merupakan warisan budaya nenek moyang kita.

Tidak ada komentar: