Minggu, Desember 14, 2008

Cerita seekor siput yang "Meng-60n660n6......"

Cerita dari sebuah kebiasaan.......

Hari ini adalah hari dimana genap dua minggu sudah saya bertugas di sini, Senin besok adalah hari yang paling saya tunggu-tunggu, tidak lain dan tidak bukan karena mulai besok sampai satu minggu ke-depan memasuki masa libur sehingga saya bisa berkumpul dengan orang-orang yang saya cintai dan sayangi (istri dan kedua bocah kecil-ku).

Seperti sebelum-sebelumnya, baik saya maupun teman sekerja, sehari sebelum meninggalkan lokasi, kami mempunyai satu agenda yang tidak bisa dilewatkan, itupun dilakukan kalau cuaca mendukung. Ya, kami "berburu" gonggong, meskipun namanya identik dengan suara anjing tapi yang satu ini adalah sebuah siput, siput gonggong.
Gonggong hidup di lokasi pasir berlumpur dengan kondisi air yang tenang, juga disekitarnya ditumbuhi oleh tumbuhan laut seperti bangsa rumput-rumputan. Gonggong inilah yang akan kami bawa pulang sebagai oleh-oleh untuk orang-orang yang kami sayangi di rumah. Pada saat laut mulai terlihat surut, mulailah kami bersiap menggunakan sepatu boot anti air untuk "bergerilya" di tengah-tengah hamparan rumput-rumputan yang tumbuh di lokasi yang berlumpur. Biasanya pada saat air laut surut, gonggong berada di sekitar gunungan pasir kecil-kecil, dan tentunya butuh ketajaman mata untuk melihat si siput yang satu ini, karena warna cangkangnya tidak terlihat alias tertutup oleh lumpur atau lumut. Dengan sedikit membungkuk-kan badan dan berusaha menajamkan penglihatan mulailah ketemu yang kami cari, satu per satu diambil dan diletakkan pada sebuah ember plastik. Setelah satu jam, kami akhiri perburuan kali ini, cukup lumayan hasilnya.....sekitar 1/2 ember besar. Bergegas kami membersihkan si gonggong ini di lokasi yang terdapat aliran air (ini masih di laut lho.....) yaitu dengan memutar-mutar ember dan sedikit diberi hentakan, selanjutnya dibilas dengan air yang baru, proses ini dilakukan beberapa kali. Pencucian ini dilakukan untuk menghilangkan lendir si siput dan membersihkan kotoran yang menempel pada cangkang. Setelah dirasa "bersih", ember yang berisi gonggong tadi diberi air laut dan diinapkan dulu satu malam, supaya pasir/lumpur yang ada di dalam cangkang atau yang menempel pada tubuh gonggong bisa terlepas.


Nah, besok pagi adalah hari H "peng-eksekusi-an" si gonggong untuk diolah/dimasak, untuk agenda yang satu ini kami serahkan pada ahlinya, yaitu kepada "chef" andalan kami. Chef yang sehari-hari menyediakan menu-menu bergizi bagi kami disini, yang kebetulan juga punya resep khusus warisan nenek moyang dalam mengolah gonggong.


Menurut orang-orang, juga menurut teman-teman sekerja (maklum, saya sendiri seorang vegetarian), daging gonggong sangat enak, dan tentunya sebagai makanan laut gonggong adalah sumber gizi yang baik. Pantas saja, gonggong menjadi makanan laut khas Kep. Riau dan menjadi daya tarik tersendiri bagi orang-orang yang sedang berkunjung ke Kep. Riau untuk mencicipinya. Yang lebih unik lagi adalah cara memakannya, butuh bantuan sebuah tusuk gigi untuk menarik daging dari cangkangnya. Proses penarikan daging dari cangkangnya juga tidak boleh sembarangan, daging ditarik menggunakan tusuk gigi harus mengikuti bentuk cangkangnya, karena dagingnya bisa putus, kalau putus tentu akan membuat si penikmat kerepotan untuk mengkorek-korek daging yang berada pada cangkang. Kalau ada yang penasaran, silahkan berkunjung ke Kep. Riau.


I love Monday.....


Thanks untuk Bu Sri (chef) yang nggak bosan-bosan untuk mengolah si siput.

Tidak ada komentar: