Sekedar mencari keadilan dan keobyektifan......
Beberapa hari yang lalu, kalo nggak salah hari Kamis tanggal 22 Jan. 2009, saya sempat berbicara "empat mata" ato juga bisa dikatakan sebagai "coaching", namun ini bukan semata-mata karena atas dasar prosedur suatu penilaian melainkan karena memang belum adanya "kesepakatan" dalam hal penilaian kinerja.Saat itu, saya merasa sebagai "penggugat" yang melakukan banding ke tingkat pengadilan yang lebih tinggi, karena saat itu aku berusaha mengajukan beberapa argument dan pembenaran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kinerja saya, ato bisa dikatakan sedang mengajukan bukti-bukti dan saksi-saksi baru......:-D
Namun, pada saat tengah berlangsungnya pembicaraan, alangkah terkejutnya saya, ternyata si bos mempunyai sebuah buku kecil yang berisi "dosa" atau "kesalahan" anak buah terhadap bos. Terungkap bahwa saya pernah melakukan beberapa "kesalahan", diantaranya adalah : timeline pekerjaan yang tidak memenuhi target, sesuai daily notification report, ada pekerjaan yang sudah dilaksanakan tetapi laporan pekerjaan tidak ada dan "kesalahan" yang paling fatal adalah pada saat ada di forum dengan third party si bos merasa dilecehkan oleh saya karena saya menolak penugasan yang diberikan. Si bos merasa respons yang saya berikan terlalu menyakitkan sampai-sampai beliau merasa ditertawakan oleh third party yang berada di forum tersebut. Pada saat si bos berkata kurang lebih seperti ini " untuk pekerjaan commisioning ini, vokal person saya tunjuk...", saya-pun merespons dengan pelan kepada beliau, itupun tidak dikemukakan di depan forum melainkan dengan berbisik karena kebetulan si bos berada selang satu bangku dengan saya. Namun apa respos si bos, "kalau nggak mau ya sudah, yang lain juga masih banyak...", sungguh saya pikir kejadian saat itu adalah kejadian biasa, namun sekarang baru terungkap bahwa kejadian saat itu ternyata menorehkan luka yang dalam di hati si bos.
Ya bagaimanapun namanya juga bos, dalam peraturan yang berlaku cuman ada 2 pasal, pasal pertama menyebutkan bahwa bos tidak pernah salah, dan pasal kedua menyebutkan jika bos bersalah maka dikembalikan ke pasal pertama. Maka dari itu, penilaian pada tahun-tahun sebelumnya cukup fair dan "obyektif", namun pada tahun ini penilaian khususnya penilaian terhadap kinerja saya sungguh merosot, padahal saya merasa tahun 2008 saya bekerja tidak kurang dari tahun 2007, boleh dikatakan sedikit banyak saya masih punya kontribusi terhadap perusahaan, belum lagi di tahun 2008, saya dan teman-tema kerja angkatan lama juga kedatangan teman kerja baru yang bagaimanapun juga kami harus sedikit banyak 'melatih' mereka. Catatan "dosa" saya terhadap si bos sangat mempengaruhi penilaian kinerja saya, belum lagi si bos hanya berpatokan pada laporan-laporan yang ada, sungguh merana.........
Dengan tekad memperjuangkan keadilan dan kebenaran, argumentasi terus disampaikan kepada si bos, meskipun banyak terkesan "menggurui" si bos, tidak ada hal yang menarik dari akhir pembicaraan yang terkadang terkesan "friendly", terkadang juga sangat emosional.
Sebagai lanjutan, pada hari Jumat tanggal 23 Jan. 2009, saya menerima email dari si bos yang isinya memerintahkan saya untuk mengisi sendiri lembar penilaian kinerja menurut sudut pandang saya. Akhirnya, lembar tersebut saya isi sesuai dengan pembenaran-pembenaran yang sudah saya sampaikan pada saat saya bertemu dengan si bos. Justru, yang mengherankan, setelah email tersebut saya reply, pada sore harinya saya mendapat email jawaban dari si bos yang isinya memerintahkan saya untuk mencetak dan menandatangani lembar penilaian tersebut....entah kok bisa semudah ini,ada apa?(dalam hati)
Ya mudah-mudahan si bos punya niat baik dengan meloloskan penilaian versi saya....amien
Baca Selengkapnya......
Senin, Januari 26, 2009
Senin, Januari 19, 2009
I K H L A S.........
Berusaha kembali untuk memotivasi diri.....
Dalam keseharian saya cenderung memaknai ikhlas itu ke dalam bentuk perasaan yang tulus dan tidak ada pamrih. Kalau dikaji lebih dalam lagi ikhlas berkaitan erat dengan cara berpikir kita, yaitu cara berpikir yang positif.
Ikhlas juga bisa dikatakan sebagai sebuah system, sehingga merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.
Dari sebuah buku (The Secret of Inner Power), agar mudah dalam memahami makna dan arti ikhlas dengan mudah, maka kita bisa meng-analogi-kannya pada saat kita berhajat besar.
Adapun prinsip ikhlas adalah sbb :
1. Atas Kemauan Sendiri, umumnya orang yang akan berhajat besar selalu dengan kemauannya sendiri, tidak ada unsur paksaan atau tekanan dari orang lain, juga tidak karena meniru orang lain.
2. Tanpa Pamrih, orang yang berhajat tentu tidak menginginkan pamrih dari siapapun atau apapun.
3. Di Tempat Sepi (Sendiri), orang buang hajat biasanya hanya dilakukan sendiri saja, hanya diri sendiri yang tahu.
4. Dilakukan Dengan Rasa Tenang, biasanya orang yang buang hajat tenang, tidak berteriak-teriak atau gaduh.
5. Menimbulkan Rasa Lega (plong) & Nikmat, orang yang buang hajat dalam berhajatnya bisa sedikit, banyak, kadang susah keluar. Semuanya dilakukan dengan nikmat dan setelahnya pasti akan terasa lega.
6. Tidak Pernah Menunda-nunda atau Menahan-nahan, orang yang akan buang hajat bisa dipastikan tidak akan menunda-nunda.
7. Tidak Pernah Menghitung atau Mengungkit-ungkit, orang yang berhajat besar tidak pernah mau neghitung berat kotorannya.
8. Melupakan Segera Apa yang dikerjakannya, orang yang berhajat besar tidak pernah mengingat kembali bentuk, warna ataupun ukuran kotorannya.
Dalam mengamalkan ikhlas di keseharian, jika kita akan melakukan sesuatu idealnya adalah atas kemauan diri sendiri di saat itu, tidak ada unsur paksaan dari orang lain atau tidak menunda-nunda melaksanakannya misalnya, kita akan bersedekah kepada orang yang tidak kita kenal, hendaknya bersedekah dengan benar, atas kemauan diri sendiri semata-mata hanya memohon ridho Allah SWT, bukan atas pamrih duniawi, supaya kita dipuji orang, supaya terlihat sebagai sosok yang dermawan. Setelah bersedekah kita tidak pernah lagi mengungkit-ungkit lagi amalan kita, jangan samapi kita dikatakan orang yang bersedekah hanya ingin di-cap orang yang berjasa atau yang lainnya. Dan lekaslah melupakan kebaikan yang telah kita perbuat, karena itu adalah tanda sebuah keikhlasan.
Namun secara luas , bisa juga dikatakan bahwa ikhlas adalah "obat hati". Adapun ciri-ciri orang yang ikhlas (www.dakwatuna.com), yaitu :
1. Senantiasa beramal dan bersungguh-sungguh dalam beramal, baik dalam keadaan sendiri atau bersama orang banyak, baik ada pujian ataupun celaan. Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, “Orang yang riya memiliki beberapa ciri; malas jika sendirian dan rajin jika di hadapan banyak orang. Semakin bergairah dalam beramal jika dipuji dan semakin berkurang jika dicela.”
Perjalanan waktulah yang akan menentukan seorang itu ikhlas atau tidak dalam beramal. Dengan melalui berbagai macam ujian dan cobaan, baik yang suka maupun duka, seorang akan terlihat kualitas keikhlasannya dalam beribadah, berdakwah, dan berjihad.
Al-Qur’an telah menjelaskan sifat orang-orang beriman yang ikhlas dan sifat orang-orang munafik, membuka kedok dan kebusukan orang-orang munafik dengan berbagai macam cirinya. Di antaranya disebutkan dalam surat At-Taubah ayat 44-45, “Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, tidak akan meminta izin kepadamu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa. Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya.”
2. Terjaga dari segala yang diharamkan Allah, baik dalam keadaan bersama manusia atau jauh dari mereka. Disebutkan dalam hadits, “Aku beritahukan bahwa ada suatu kaum dari umatku datang di hari kiamat dengan kebaikan seperti Gunung Tihamah yang putih, tetapi Allah menjadikannya seperti debu-debu yang beterbangan. Mereka adalah saudara-saudara kamu, dan kulitnya sama dengan kamu, melakukan ibadah malam seperti kamu. Tetapi mereka adalah kaum yang jika sendiri melanggar yang diharamkan Allah.” (HR Ibnu Majah)
Tujuan yang hendak dicapai orang yang ikhlas adalah ridha Allah, bukan ridha manusia. Sehingga, mereka senantiasa memperbaiki diri dan terus beramal, baik dalam kondisi sendiri atau ramai, dilihat orang atau tidak, mendapat pujian atau celaan. Karena mereka yakin Allah Maha melihat setiap amal baik dan buruk sekecil apapun.
3. Dalam dakwah, akan terlihat bahwa seorang dai yang ikhlas akan merasa senang jika kebaikan terealisasi di tangan saudaranya sesama dai, sebagaimana dia juga merasa senang jika terlaksana oleh tangannya.
Para dai yang ikhlas akan menyadari kelemahan dan kekurangannya. Oleh karena itu mereka senantiasa membangun amal jama’i dalam dakwahnya. Senantiasa menghidupkan syuro dan mengokohkan perangkat dan sistem dakwah. Berdakwah untuk kemuliaan Islam dan umat Islam, bukan untuk meraih popularitas dan membesarkan diri atau lembaganya semata.
2.Tidak tergantung / berharap pada makhluk, Sayyidina ’Ali pun pernah berkata, orang yang ikhlas itu jangankan untuk mendapatkan pujian, diberikan ucapan terima kasih pun dia sama sekali tidak akan pernah mengharapkannya, karena setiap kita beramal hakikatnya kita itu sedang berinteraksi dengan Allah, oleh karenanya harapan yang ada akan senantiasa tertuju kepada keridhaan Allah semata.
3.Tidak pernah membedakan antara amal besar dan amal kecil. Diriwayatkan bahwa Imam Ghazali pernah bermimpi, dan dalam mimpinya beliau mendapatkan kabar bahwa amalan yang besar yang pernah beliau lakukan diantaranya adalah disaat beliau melihat ada seekor lalat yang masuk kedalam tempat tintanya, lalu beliau angkat lalat tersebut dengan hati-hati lalu dibersihkannya dan sampai akhirnya lalat itupun bisa kembali terbang dengan sehat. Maka sekecil apapun sebuah amal apabila kita kerjakan dengan sempurna dan benar-benar tiada harapan yang muncul pada selain Allah, maka akan menjadi amal yang sangat besar dihadapan Allah SWT.
4. Banyak Amal Kebaikan Yang Rahasia. Mungkin ketika kita mengaji dilingkungan orang banyak maka kita akan mengaji dengan enaknya, lama dan penuh khidmat, ketika kita shalat berjamaah apalagi sebagai imam kita akan berusaha khusyu dan lama, tapi apakah hal tersebut akan kita lakukan dengan kadar yang sama disaat kita beramal sendirian ? apabila amal kita tetap sama bahkan cenderung lebih baik, lebih lama, lebih enak dan lebih khusyuk maka itu bisa diharapkan sebagai amalan yang ikhlas. Namun bila yang terjadi sebaliknya, ada kemungkinan amal kita belumlah ikhlas.
5. Tidak membedakan antara bendera, golongan, ras, atau organisasi. Fitrah manusia adalah ingin mendapatkan pengakuan dan penilaian dari keberadaannya dan segala aktivitasnya, namun pengakuan dan penilaian makhluk, baik perorangan, organisasi atau instansi tempat kerja itu relatif dan akan senantiasa berubah, banyak orang yang pernah dianggap sebagai pahlawan namun seiring waktu berjalan adakalanya berubah menjadi sosok penjahat yang patut diwaspadai. Maka tiada penilaian dan pengakuan yang paling baik dan yang harus senantiasa kita usahakan adalah penilaian dan pengakuan dari Allah SWT.
Ya Allah ya Rab, bimbinglah hamba-Mu ini agar selalu berada di jalan yang Engkau ridhoi supaya hamba menjadi orang yang ikhlas....amien
Baca Selengkapnya......
Dalam keseharian saya cenderung memaknai ikhlas itu ke dalam bentuk perasaan yang tulus dan tidak ada pamrih. Kalau dikaji lebih dalam lagi ikhlas berkaitan erat dengan cara berpikir kita, yaitu cara berpikir yang positif.
Ikhlas juga bisa dikatakan sebagai sebuah system, sehingga merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.
Dari sebuah buku (The Secret of Inner Power), agar mudah dalam memahami makna dan arti ikhlas dengan mudah, maka kita bisa meng-analogi-kannya pada saat kita berhajat besar.
Adapun prinsip ikhlas adalah sbb :
1. Atas Kemauan Sendiri, umumnya orang yang akan berhajat besar selalu dengan kemauannya sendiri, tidak ada unsur paksaan atau tekanan dari orang lain, juga tidak karena meniru orang lain.
2. Tanpa Pamrih, orang yang berhajat tentu tidak menginginkan pamrih dari siapapun atau apapun.
3. Di Tempat Sepi (Sendiri), orang buang hajat biasanya hanya dilakukan sendiri saja, hanya diri sendiri yang tahu.
4. Dilakukan Dengan Rasa Tenang, biasanya orang yang buang hajat tenang, tidak berteriak-teriak atau gaduh.
5. Menimbulkan Rasa Lega (plong) & Nikmat, orang yang buang hajat dalam berhajatnya bisa sedikit, banyak, kadang susah keluar. Semuanya dilakukan dengan nikmat dan setelahnya pasti akan terasa lega.
6. Tidak Pernah Menunda-nunda atau Menahan-nahan, orang yang akan buang hajat bisa dipastikan tidak akan menunda-nunda.
7. Tidak Pernah Menghitung atau Mengungkit-ungkit, orang yang berhajat besar tidak pernah mau neghitung berat kotorannya.
8. Melupakan Segera Apa yang dikerjakannya, orang yang berhajat besar tidak pernah mengingat kembali bentuk, warna ataupun ukuran kotorannya.
Dalam mengamalkan ikhlas di keseharian, jika kita akan melakukan sesuatu idealnya adalah atas kemauan diri sendiri di saat itu, tidak ada unsur paksaan dari orang lain atau tidak menunda-nunda melaksanakannya misalnya, kita akan bersedekah kepada orang yang tidak kita kenal, hendaknya bersedekah dengan benar, atas kemauan diri sendiri semata-mata hanya memohon ridho Allah SWT, bukan atas pamrih duniawi, supaya kita dipuji orang, supaya terlihat sebagai sosok yang dermawan. Setelah bersedekah kita tidak pernah lagi mengungkit-ungkit lagi amalan kita, jangan samapi kita dikatakan orang yang bersedekah hanya ingin di-cap orang yang berjasa atau yang lainnya. Dan lekaslah melupakan kebaikan yang telah kita perbuat, karena itu adalah tanda sebuah keikhlasan.
Namun secara luas , bisa juga dikatakan bahwa ikhlas adalah "obat hati". Adapun ciri-ciri orang yang ikhlas (www.dakwatuna.com), yaitu :
1. Senantiasa beramal dan bersungguh-sungguh dalam beramal, baik dalam keadaan sendiri atau bersama orang banyak, baik ada pujian ataupun celaan. Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, “Orang yang riya memiliki beberapa ciri; malas jika sendirian dan rajin jika di hadapan banyak orang. Semakin bergairah dalam beramal jika dipuji dan semakin berkurang jika dicela.”
Perjalanan waktulah yang akan menentukan seorang itu ikhlas atau tidak dalam beramal. Dengan melalui berbagai macam ujian dan cobaan, baik yang suka maupun duka, seorang akan terlihat kualitas keikhlasannya dalam beribadah, berdakwah, dan berjihad.
Al-Qur’an telah menjelaskan sifat orang-orang beriman yang ikhlas dan sifat orang-orang munafik, membuka kedok dan kebusukan orang-orang munafik dengan berbagai macam cirinya. Di antaranya disebutkan dalam surat At-Taubah ayat 44-45, “Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, tidak akan meminta izin kepadamu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa. Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya.”
2. Terjaga dari segala yang diharamkan Allah, baik dalam keadaan bersama manusia atau jauh dari mereka. Disebutkan dalam hadits, “Aku beritahukan bahwa ada suatu kaum dari umatku datang di hari kiamat dengan kebaikan seperti Gunung Tihamah yang putih, tetapi Allah menjadikannya seperti debu-debu yang beterbangan. Mereka adalah saudara-saudara kamu, dan kulitnya sama dengan kamu, melakukan ibadah malam seperti kamu. Tetapi mereka adalah kaum yang jika sendiri melanggar yang diharamkan Allah.” (HR Ibnu Majah)
Tujuan yang hendak dicapai orang yang ikhlas adalah ridha Allah, bukan ridha manusia. Sehingga, mereka senantiasa memperbaiki diri dan terus beramal, baik dalam kondisi sendiri atau ramai, dilihat orang atau tidak, mendapat pujian atau celaan. Karena mereka yakin Allah Maha melihat setiap amal baik dan buruk sekecil apapun.
3. Dalam dakwah, akan terlihat bahwa seorang dai yang ikhlas akan merasa senang jika kebaikan terealisasi di tangan saudaranya sesama dai, sebagaimana dia juga merasa senang jika terlaksana oleh tangannya.
Para dai yang ikhlas akan menyadari kelemahan dan kekurangannya. Oleh karena itu mereka senantiasa membangun amal jama’i dalam dakwahnya. Senantiasa menghidupkan syuro dan mengokohkan perangkat dan sistem dakwah. Berdakwah untuk kemuliaan Islam dan umat Islam, bukan untuk meraih popularitas dan membesarkan diri atau lembaganya semata.
Berdasarkan sumber yang lain(Seri Mutiara Al Hikam oleh AA Gym, www http://www.dtjakarta.or.id/) ciri-ciri orang yang mempunyai keikhlasan adalah sbb :
1. Hidupnya jarang sekali merasa kecewa,Orang yang ikhlas dia tidak akan pernah berubah sikapnya seandainya disaat dia berbuat sesuatu kebaikan ada yang memujinya, atau tidak ada yang memuji/menilainya bahkan dicacipun hatinya tetap tenang, karena ia yakin bahwa amalnya bukanlah untuk mendapatkan penilaian sesama yang selalu berubah tetapi dia bulatkan seutuhnya hanya ingin mendapatkan penilaian yang sempurna dari Allah SWT.2.Tidak tergantung / berharap pada makhluk, Sayyidina ’Ali pun pernah berkata, orang yang ikhlas itu jangankan untuk mendapatkan pujian, diberikan ucapan terima kasih pun dia sama sekali tidak akan pernah mengharapkannya, karena setiap kita beramal hakikatnya kita itu sedang berinteraksi dengan Allah, oleh karenanya harapan yang ada akan senantiasa tertuju kepada keridhaan Allah semata.
3.Tidak pernah membedakan antara amal besar dan amal kecil. Diriwayatkan bahwa Imam Ghazali pernah bermimpi, dan dalam mimpinya beliau mendapatkan kabar bahwa amalan yang besar yang pernah beliau lakukan diantaranya adalah disaat beliau melihat ada seekor lalat yang masuk kedalam tempat tintanya, lalu beliau angkat lalat tersebut dengan hati-hati lalu dibersihkannya dan sampai akhirnya lalat itupun bisa kembali terbang dengan sehat. Maka sekecil apapun sebuah amal apabila kita kerjakan dengan sempurna dan benar-benar tiada harapan yang muncul pada selain Allah, maka akan menjadi amal yang sangat besar dihadapan Allah SWT.
4. Banyak Amal Kebaikan Yang Rahasia. Mungkin ketika kita mengaji dilingkungan orang banyak maka kita akan mengaji dengan enaknya, lama dan penuh khidmat, ketika kita shalat berjamaah apalagi sebagai imam kita akan berusaha khusyu dan lama, tapi apakah hal tersebut akan kita lakukan dengan kadar yang sama disaat kita beramal sendirian ? apabila amal kita tetap sama bahkan cenderung lebih baik, lebih lama, lebih enak dan lebih khusyuk maka itu bisa diharapkan sebagai amalan yang ikhlas. Namun bila yang terjadi sebaliknya, ada kemungkinan amal kita belumlah ikhlas.
5. Tidak membedakan antara bendera, golongan, ras, atau organisasi. Fitrah manusia adalah ingin mendapatkan pengakuan dan penilaian dari keberadaannya dan segala aktivitasnya, namun pengakuan dan penilaian makhluk, baik perorangan, organisasi atau instansi tempat kerja itu relatif dan akan senantiasa berubah, banyak orang yang pernah dianggap sebagai pahlawan namun seiring waktu berjalan adakalanya berubah menjadi sosok penjahat yang patut diwaspadai. Maka tiada penilaian dan pengakuan yang paling baik dan yang harus senantiasa kita usahakan adalah penilaian dan pengakuan dari Allah SWT.
Ya Allah ya Rab, bimbinglah hamba-Mu ini agar selalu berada di jalan yang Engkau ridhoi supaya hamba menjadi orang yang ikhlas....amien
Baca Selengkapnya......
Sabtu, Januari 17, 2009
PADAGON.....kisah sebuah persahabatan
Mencoba untuk flashback ke 19 tahun silam........dimana ada sesuatu yang sangat berarti sampai sekarang.....itulah
PADAGON adalah sebuah nama yang kami ciptakan saat itu sekitar 19 tahun yang lalu dimana saat itu kami masih duduk di bangku sekolah menengah. PADAGON sendiri adalah kependekan dari PAgas DAmean GONdorejo, dan itu tidak lain adalah tempat masing-masing kami tinggal. Kami tinggal dalam satu lokasi pemerintahan desa , desa yang merupakan bagian dari sebuah kota kecil di utara Kota Malang - Jawa Timur. Lingkungan kami tinggal-pun saling berdekatan meskipun dibedakan nama, Pagas adalah sebuah Komplek TNI AU, Damean dan Gondorejo adalah nama dusun yang ada di desa kami.
PADAGON adalah sebuah nama yang kami ciptakan saat itu sekitar 19 tahun yang lalu dimana saat itu kami masih duduk di bangku sekolah menengah. PADAGON sendiri adalah kependekan dari PAgas DAmean GONdorejo, dan itu tidak lain adalah tempat masing-masing kami tinggal. Kami tinggal dalam satu lokasi pemerintahan desa , desa yang merupakan bagian dari sebuah kota kecil di utara Kota Malang - Jawa Timur. Lingkungan kami tinggal-pun saling berdekatan meskipun dibedakan nama, Pagas adalah sebuah Komplek TNI AU, Damean dan Gondorejo adalah nama dusun yang ada di desa kami.
Awalnya kami terdiri dari 7 bocah Sekolah Menengah dengan latar belakang yang "sedikit" berbeda, namun kami berdampingan sejak kami belajar di taman kanak-kanak, alias kami satu sekolah mulai dari TK sampai SMA, bahkan beberapa sahabat satu almamater di perguruan tinggi. Perkenalkan nama masing masing dari kami : Agus, Dede', Anto', Okta, Chris, Tri', Liliek, semuanya adalah cowok, meskipun ada satu nama yang terkesan adalah nama cewek. Okta, Liliek dan Chris bertempat tinggal di Komplek TNI AU, Anto' dan Tri' tinggal di Damean sedangkan Agus dan Dede' tinggal di Gondorejo. Yang menarik lagi adalah "kebetulan" orang tua kami berdinas di satu pangkalan udara dan hanya seorang saja yang orang tuanya bekerja di lingkungan pendidikan yang tidak lain adalah di sekolah kami.
Kebersamaan yang kami lewati mulai dari di bangku Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar hingga saat itu sampai di Sekolah Menengah membuat kami semakin sangat dekat dan muncul ide membuat sebuah "gank" yang memang saat itu "cukup terkenal" di lingkungan sekolah. Tentunya, terkenal disini bukan terkenal dari sisi negatifnya melainkan sebaliknya di sisi positifnya. Mulai dari kebersamaan, rasa tolong menolong sampai hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan pendidikan baik ekskul maupun kegiatan belajar mengajar. Bahkan kami semua masuk dalam kepengurusan OSIS saat itu, juga aktif sebagai anggota regu inti Pramuka Gugus depan sekolah kami. Berjalannya waktu, hampir setiap malam kecuali malam minggu diisi dengan belajar kelompok ato belajar bersama, biasanya sich kami belajar di markas kami di Gondorejo yang tidak lain adalah rumah si Agus, tepatnya di kamarnya Agus. Belajar kelompoknya cenderung "tidak efektif" , karena terkadang muncul sifat yang negatif, kalau ada pekerjaan rumah dari sekolah tinggal contoh aja dari sohib yang sudah mengerjakan......tapi itu sich kadang-kadang aja...:-D. Di masa-masa ini juga kami mulai sedikit "mengenal" dengan hal-hal yang negatif, yang populer saat itu sich rokok, kami-pun mulai mencoba-coba barang yang satu ini.......itupun sekedar mencoba, terkadang satu batang rokok untuk rame-rame. Kami-pun mulai menggunakan kendaraan bermotor pada saat akan belajar bersama, padahal siang harinya kalo ke sekolah cuman mengayuh sepeda onthel. Juga mulai mengenal "cimon" cinta monyet.........semuanya kami lewati bersama. Oh ya, begitu mengenal cimon, justru belajar bersama banyak diisi untuk menulis atau membalas surat dari si dia........huh memang-memang, ora nggenah.....:-D
Ada satu kebiasaan kami yang boleh dibilang sedikit positif, kalo lagi nggak ada pekerjaan rumah atau lagi "nganggur" biasanya kami membuat poster di kertas folio, entah ide apa aja boleh dituangkan di kertas folio tersebut, nanti kalo sudah selesai poster tersebut kami pajang di dinding markas kami.
Sampai akhirnya kami dipisahkan oleh sekolah, tepat pada saat setelah kelulusan dari sekolah menengah. Okta, Liliek, Chris dan Tri' masuk dalam satu sekolah menengah atas negeri di kota Malang, Anto' juga masuk di SMAN di kota Malang, Dede' masuk di SMAN di kota Lawang, sedangkan Agus di Sekolah Menengah Kejuruan. Meskipun sekolah kami berbeda tidak membuat persahabatan kami meluntur, walaupun tatap muka dengan sahabat yang lain tidak se-intens sewaktu di sekolah menengah. Di masa SMA ini, Chris pindah rumah ke lingkungan perumahan yang baru di Sundeng, Sawojajar-Malang, Liliek juga pindah ke komplek TNI AU Amarta yang berlokasi tepat di dalam pangkalan TNI AU, Dede' juga terkadang berada di rumah orang tuanya di perumahan yang sama dengan Chris, juga akhirnya masuk-lah Arief ke gank kami, Arief sebenarnya adalah teman SMP kami juga, cuman baru ada "rasa" pada saat dia berada di lokasi perumahan yang sama dengan Chris dan Dede'.
Terkadang, malam minggu kami isi dengan jalan bareng, entah cuman keliling kota ato cuman makan malam nasi goreng made in dhewe yang dilanjutin ngobrol sampai pagi.
Selepas SMA, kami-pun semakin "berpencar", terutama Dede' dan Liliek yang harus banyak menetap di kota Surabaya untuk melanjutkan pendidikan tingginya, sedangkan yang lain masih berada di kota Malang, hanya Agus yang semakin sibuk dengan kegiatan Pecinta Alam dan SAR. Kondisi ini memaksa kami jarang bertemu, hanya satu dua kali saja dalam sebulan kami bisa bertemu itupun tidak semua dari kami hadir, karena saat itu masing-masing dari kami mempunyai kesibukan masing-masing.
Hingga akhirnya, masing-masing dari kami bisa menyelesaikan pendidikan tingginya dan berusaha mendapatkan pekerjaan yang paling "layak". Saat ini masing-masing dari kami sudah menikah dan mempunyai keluarga, masing-masing dari kami sudah dipisahkan oleh lautan yang luas, karena saat ini kami berada di pulau yang berbeda......namun itu semua tidak bisa menghapus rasa persahabatan ini.......hidup PADAGON.
Salam buat sahabat-sahabatku, semoga silaturahhmi ini bisa tetap terjaga selamanya : Liliek "kilil" and family di Sungai Penuh, Kerinci - Jambi ; Okta and family yang ada di Bandung - Jawa Barat, Dede' "sedex" and family yang ada di Surabaya - Jawa Timur, Anto' and family yang ada di Surabaya - Jawa Timur, Arief "korep" yang ada di Tangerang - Banten, cak Agus "dhemit" yang always di Singosari - Malang Jawa Timur, Chris "Li Cheng" and family yang ada di pulau Batam.
"KEEP our FRIENDSHIP"
Baca Selengkapnya......
Senin, Januari 12, 2009
Catatan Akhir tahun......
Sebuah refleksi kehidupan di tahun 1429H ; 2008 ......
Tak terasa sudah 12 hari kita meninggalkan tahun 1429H ; 2008, banyak sekali catatan perjalanan hidup yang kita alami, bisa berupa kenangan-kenangan manis, menggembirakan, menggelitik bahkan juga kenangan-kenangan sedih yang mengharuskan adanya tetesan air mata.
Tahun 1429H ; 2008, banyak sekali pelajaran hidup yang bisa dipetik untuk dijadikan sebagai pedoman dalam melangkah di tahun ini. Pelajaran hidup dari sebuah kebahagiaan sampai dengan kesedihan, tentunya semua itu bisa menjadikan kita lebih berhati-hati dalam melangkah menapaki tahun 1430H ; 2009. Kebahagiaan yang bermula dari sebuah kesuksesan jangan sampai membuat kita terlena dalam luapan kegembiraan yang lambat laun akan menjerumuskan kita pada jurang kesombongan dan ketidakhati-hatia. dalam melangkah, namun sebaliknya dengan kesuksesan sebelumnya akan membangkitkan semangat kita untuk memperoleh kesuksesan yang lainnya. Demikian juga dengan kegagalan yang berujung dengan kesedihan, kita harus menjadikan kegagalan sebagai sebuah pelajaran yang berharga untuk memperbaiki diri, langkah ataupun stratgei dalam menghadapi hidup ini agar kita memperoleh sebuah kesuksesan atau kebahagiaan. Seperti kata pepatah, hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, hari esok harus lebih baik dari hari ini, tentu kita tidak ingin kita hanya berjalan di tempat atau bahkan terjerumus dalam suatu lubang kegagalan yang sama melainkan kita harus tetap maju, optimis dalam menghadapi hidup di tahun ini
Tahun 1429H ; 2008, tahun yang penuh dengan hal-hal yang baru, muncul kawan-kawan baru, hadir sahabat-sahabat baru, tercipta saudara-saudara baru, tumbuh suasana-suasana yang baru. Kehadiran mereka tidak serta merta menghapus adanya elemen positif yang ada, karena masih ada yang merasa menjadi "musuh". Masih ada hal-hal yang dirasa tidak "meng-enak-kan", tapi itulah kehidupan yang harus dijalani.
Kehidupan sebagai seorang anak, kehidupan sebagai seorang saudara laki-laki, kehidupan sebagai seorang suami, kehidupan sebagai seorang ayah, kehidupan sebagai seorang teman, kehidupan sebagai seorang sahabat, kehidupan sebagai seorang pekerja......semuanya menuntut untuk dijalani sesuai dengan tanggung jawabnya masing-masing.
Semoga di tahun 1430H ; 2009, semuanya akan lebih baik, kehidupan yang lebih baik, terutama tingkatan kehidupan spiritual yang harus bertambah. Mencoba untuk menggapai berbagai kesuksesan, baik kesuksesan dalam keluarga;rumah tangga maupun dalam pekerjaan. Menjauhkan / menghindari kegagalan dengan selalu berhati-hati dalam melangkah, mempertimbangkan sesuatu dengan sebaik-baiknya. Tetap tawakal dalam berusaha, istiqomah dalam memegang prinsip dan selalu ikhlas dalam menerima suatu keadaan....amien.
Sungguh ku-berharap tahun 1430H ; 2009 menjadi tahun yang penuh kesuksesan, tahun yang penuh dengan kedamaian, tahun yang penuh berkah, tahun yang penuh dengan suka cita......amien
Catatan kecil :
InsyaAllah tahun ini, anggota keluarga akan bertambah satu orang lagi, Lanang juga sudah mulai masuk TK , adik Arul juga sudah memasuki lingkungan playgroup.
Baca Selengkapnya......
Langganan:
Postingan (Atom)



