Senin, Januari 19, 2009

I K H L A S.........

Berusaha kembali untuk memotivasi diri.....

Dalam keseharian saya cenderung memaknai ikhlas itu ke dalam bentuk perasaan yang tulus dan tidak ada pamrih. Kalau dikaji lebih dalam lagi ikhlas berkaitan erat dengan cara berpikir kita, yaitu cara berpikir yang positif.
Ikhlas juga bisa dikatakan sebagai sebuah system, sehingga merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

Dari sebuah buku (The Secret of Inner Power), agar mudah dalam memahami makna dan arti ikhlas dengan mudah, maka kita bisa meng-analogi-kannya pada saat kita berhajat besar.
Adapun prinsip ikhlas adalah sbb :
1. Atas Kemauan Sendiri, umumnya orang yang akan berhajat besar selalu dengan kemauannya sendiri, tidak ada unsur paksaan atau tekanan dari orang lain, juga tidak karena meniru orang lain.
2. Tanpa Pamrih, orang yang berhajat tentu tidak menginginkan pamrih dari siapapun atau apapun.
3. Di Tempat Sepi (Sendiri), orang buang hajat biasanya hanya dilakukan sendiri saja, hanya diri sendiri yang tahu.
4. Dilakukan Dengan Rasa Tenang, biasanya orang yang buang hajat tenang, tidak berteriak-teriak atau gaduh.
5. Menimbulkan Rasa Lega (plong) & Nikmat, orang yang buang hajat dalam berhajatnya bisa sedikit, banyak, kadang susah keluar. Semuanya dilakukan dengan nikmat dan setelahnya pasti akan terasa lega.
6. Tidak Pernah Menunda-nunda atau Menahan-nahan, orang yang akan buang hajat bisa dipastikan tidak akan menunda-nunda.
7. Tidak Pernah Menghitung atau Mengungkit-ungkit, orang yang berhajat besar tidak pernah mau neghitung berat kotorannya.
8. Melupakan Segera Apa yang dikerjakannya, orang yang berhajat besar tidak pernah mengingat kembali bentuk, warna ataupun ukuran kotorannya.

Dalam mengamalkan ikhlas di keseharian, jika kita akan melakukan sesuatu idealnya adalah atas kemauan diri sendiri di saat itu, tidak ada unsur paksaan dari orang lain atau tidak menunda-nunda melaksanakannya misalnya, kita akan bersedekah kepada orang yang tidak kita kenal, hendaknya bersedekah dengan benar, atas kemauan diri sendiri semata-mata hanya memohon ridho Allah SWT, bukan atas pamrih duniawi, supaya kita dipuji orang, supaya terlihat sebagai sosok yang dermawan. Setelah bersedekah kita tidak pernah lagi mengungkit-ungkit lagi amalan kita, jangan samapi kita dikatakan orang yang bersedekah hanya ingin di-cap orang yang berjasa atau yang lainnya. Dan lekaslah melupakan kebaikan yang telah kita perbuat, karena itu adalah tanda sebuah keikhlasan.

Namun secara luas , bisa juga dikatakan bahwa ikhlas adalah "obat hati". Adapun ciri-ciri orang yang ikhlas (www.dakwatuna.com), yaitu :
1. Senantiasa beramal dan bersungguh-sungguh dalam beramal, baik dalam keadaan sendiri atau bersama orang banyak, baik ada pujian ataupun celaan. Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, “Orang yang riya memiliki beberapa ciri; malas jika sendirian dan rajin jika di hadapan banyak orang. Semakin bergairah dalam beramal jika dipuji dan semakin berkurang jika dicela.”
Perjalanan waktulah yang akan menentukan seorang itu ikhlas atau tidak dalam beramal. Dengan melalui berbagai macam ujian dan cobaan, baik yang suka maupun duka, seorang akan terlihat kualitas keikhlasannya dalam beribadah, berdakwah, dan berjihad.
Al-Qur’an telah menjelaskan sifat orang-orang beriman yang ikhlas dan sifat orang-orang munafik, membuka kedok dan kebusukan orang-orang munafik dengan berbagai macam cirinya. Di antaranya disebutkan dalam surat At-Taubah ayat 44-45, “Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, tidak akan meminta izin kepadamu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa. Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya.”


2. Terjaga dari segala yang diharamkan Allah, baik dalam keadaan bersama manusia atau jauh dari mereka. Disebutkan dalam hadits, “Aku beritahukan bahwa ada suatu kaum dari umatku datang di hari kiamat dengan kebaikan seperti Gunung Tihamah yang putih, tetapi Allah menjadikannya seperti debu-debu yang beterbangan. Mereka adalah saudara-saudara kamu, dan kulitnya sama dengan kamu, melakukan ibadah malam seperti kamu. Tetapi mereka adalah kaum yang jika sendiri melanggar yang diharamkan Allah.” (HR Ibnu Majah)
Tujuan yang hendak dicapai orang yang ikhlas adalah ridha Allah, bukan ridha manusia. Sehingga, mereka senantiasa memperbaiki diri dan terus beramal, baik dalam kondisi sendiri atau ramai, dilihat orang atau tidak, mendapat pujian atau celaan. Karena mereka yakin Allah Maha melihat setiap amal baik dan buruk sekecil apapun.


3. Dalam dakwah, akan terlihat bahwa seorang dai yang ikhlas akan merasa senang jika kebaikan terealisasi di tangan saudaranya sesama dai, sebagaimana dia juga merasa senang jika terlaksana oleh tangannya.
Para dai yang ikhlas akan menyadari kelemahan dan kekurangannya. Oleh karena itu mereka senantiasa membangun amal jama’i dalam dakwahnya. Senantiasa menghidupkan syuro dan mengokohkan perangkat dan sistem dakwah. Berdakwah untuk kemuliaan Islam dan umat Islam, bukan untuk meraih popularitas dan membesarkan diri atau lembaganya semata.


Berdasarkan sumber yang lain(Seri Mutiara Al Hikam oleh AA Gym, www http://www.dtjakarta.or.id/) ciri-ciri orang yang mempunyai keikhlasan adalah sbb :
1. Hidupnya jarang sekali merasa kecewa,Orang yang ikhlas dia tidak akan pernah berubah sikapnya seandainya disaat dia berbuat sesuatu kebaikan ada yang memujinya, atau tidak ada yang memuji/menilainya bahkan dicacipun hatinya tetap tenang, karena ia yakin bahwa amalnya bukanlah untuk mendapatkan penilaian sesama yang selalu berubah tetapi dia bulatkan seutuhnya hanya ingin mendapatkan penilaian yang sempurna dari Allah SWT.
2.Tidak tergantung / berharap pada makhluk, Sayyidina ’Ali pun pernah berkata, orang yang ikhlas itu jangankan untuk mendapatkan pujian, diberikan ucapan terima kasih pun dia sama sekali tidak akan pernah mengharapkannya, karena setiap kita beramal hakikatnya kita itu sedang berinteraksi dengan Allah, oleh karenanya harapan yang ada akan senantiasa tertuju kepada keridhaan Allah semata.
3.Tidak pernah membedakan antara amal besar dan amal kecil. Diriwayatkan bahwa Imam Ghazali pernah bermimpi, dan dalam mimpinya beliau mendapatkan kabar bahwa amalan yang besar yang pernah beliau lakukan diantaranya adalah disaat beliau melihat ada seekor lalat yang masuk kedalam tempat tintanya, lalu beliau angkat lalat tersebut dengan hati-hati lalu dibersihkannya dan sampai akhirnya lalat itupun bisa kembali terbang dengan sehat. Maka sekecil apapun sebuah amal apabila kita kerjakan dengan sempurna dan benar-benar tiada harapan yang muncul pada selain Allah, maka akan menjadi amal yang sangat besar dihadapan Allah SWT.
4. Banyak Amal Kebaikan Yang Rahasia. Mungkin ketika kita mengaji dilingkungan orang banyak maka kita akan mengaji dengan enaknya, lama dan penuh khidmat, ketika kita shalat berjamaah apalagi sebagai imam kita akan berusaha khusyu dan lama, tapi apakah hal tersebut akan kita lakukan dengan kadar yang sama disaat kita beramal sendirian ? apabila amal kita tetap sama bahkan cenderung lebih baik, lebih lama, lebih enak dan lebih khusyuk maka itu bisa diharapkan sebagai amalan yang ikhlas. Namun bila yang terjadi sebaliknya, ada kemungkinan amal kita belumlah ikhlas.
5. Tidak membedakan antara bendera, golongan, ras, atau organisasi. Fitrah manusia adalah ingin mendapatkan pengakuan dan penilaian dari keberadaannya dan segala aktivitasnya, namun pengakuan dan penilaian makhluk, baik perorangan, organisasi atau instansi tempat kerja itu relatif dan akan senantiasa berubah, banyak orang yang pernah dianggap sebagai pahlawan namun seiring waktu berjalan adakalanya berubah menjadi sosok penjahat yang patut diwaspadai. Maka tiada penilaian dan pengakuan yang paling baik dan yang harus senantiasa kita usahakan adalah penilaian dan pengakuan dari Allah SWT.

Ya Allah ya Rab, bimbinglah hamba-Mu ini agar selalu berada di jalan yang Engkau ridhoi supaya hamba menjadi orang yang ikhlas....amien






Tidak ada komentar: